Angel
Cast : Kim So Eun as Selca Hanki-
Yesung 'Super Junior'-
Super Junior-
Other, find by your self.
Genre : Romance (may), Humor (IDontKnow)
“Aku bangga!! Aku benar-benar tak percaya ini semua terjadi seperti begitu saja. Is it a dream?” begitulah pikiranku ketika menerima sebuah piagam penghargaan itu, mendengar banyak surakan orang yang berbangga atas diriku, applause kebahagiaan mereka. Aku benar-benar tak percaya rasa ini, satu persatu teman-teman pun merangkulku, mereka mengungkapkan kebahagiaan mereka atas penghargaan yang telah aku sanding, bahkan ada yang sampai menangis terharu… “Terima kasih teman, benar-benar terima kasih.” ucapku haru. Hanya itu yang dapat aku ucapkan pada mereka, yang telah mendukungku.
Selama perjalanan pulang aku masih tak percaya dengan barang
agung yang selagi aku pegang ini, dalam barang agung itu bertuliskan bahwa
seseorang yang mendapatkannya telah memenangkan test nilai predikat matematika tertinggi dalam
pengangkatan S2 beasiswa ke luar negeri, dan ternyata… seseorang itu aku.
-------------------------------------------------------------------------
-------------------------------------------------------------------------
“Ibu, aku punya kejutan!” pekikku sembari mengacung-ngacungkan
piagam penghargaan itu,
“Ada apa nona cantik? Tak usah berteriak seperti itu, ibu pusing mendengarnya,”
“Ah maaf kalau begitu, tapi lihat ini! Aku membawakan ini untuk ibu,“ ucapku seraya memberikan piagam penghargaan itu. Melihatnya, sontak ibu terkejut dan kemudian mendekap tubuhku erat. Atau lebih tepatnya memelukku. Semakin lama, semakin erat, dan syarat tangis. Ibu menangis. Tangis haru mungkin, entahlah. Aku cemas.
“Ibu, kau kenapa? Mengapa kau menangis? Aku tahu pasti ibu menganggapku main-main.”
”Tidak sayang, ibu sangat bangga padamu, ini kesempatan besarmu untuk jauh menjadi lebih baik dari ibumu.”
”Ya bu. Aku tahu, aku akan menjadi seseorang yang lebih baik dari ibu.” ucapku seraya mengepalkan kedua lenganku. Menatap jauh.
---
“Ada apa nona cantik? Tak usah berteriak seperti itu, ibu pusing mendengarnya,”
“Ah maaf kalau begitu, tapi lihat ini! Aku membawakan ini untuk ibu,“ ucapku seraya memberikan piagam penghargaan itu. Melihatnya, sontak ibu terkejut dan kemudian mendekap tubuhku erat. Atau lebih tepatnya memelukku. Semakin lama, semakin erat, dan syarat tangis. Ibu menangis. Tangis haru mungkin, entahlah. Aku cemas.
“Ibu, kau kenapa? Mengapa kau menangis? Aku tahu pasti ibu menganggapku main-main.”
”Tidak sayang, ibu sangat bangga padamu, ini kesempatan besarmu untuk jauh menjadi lebih baik dari ibumu.”
”Ya bu. Aku tahu, aku akan menjadi seseorang yang lebih baik dari ibu.” ucapku seraya mengepalkan kedua lenganku. Menatap jauh.
---
Keesokan harinya, aku dan ibu hanya dapat tersenyum sendiri satu
sama lain, mungkin karena kami masih merasa senang akan penghargaan yang
kudapatkan itu. Setelah sarapan pagi yang penuh suka dirumah itu, aku pun bergegas menuju kampus
tercinta, dimana tempat aku memperjuangkan otak-otakku yang pintar. Haha. Ya, aku pintar.
“Selamat pagi nak selca, bisa bapak bicara?"
Yak inilah bapak pimpinan sekolah kampus ku, Bapak Santoso. Ketika aku menaiki anak tangga terakhir menuju kelas, kami tak sengaja saling berpapas elok.
“Ya pak, tapi saya masih ada jadwal kuliah.”
“Ah, it is nevermind, next I can tell about it to the tutor who’s teaching u.”
Aku pun hanya mengangguk, dan segera mensejajarkan diriku dibelakang bapak petinggi itu. Sekilas aku melirik teman-temanku yang sedang melambaikan tangan membentuk gerakan semangat untukku dari kejauhan, aku tersenyum.
“Selamat pagi nak selca, bisa bapak bicara?"
Yak inilah bapak pimpinan sekolah kampus ku, Bapak Santoso. Ketika aku menaiki anak tangga terakhir menuju kelas, kami tak sengaja saling berpapas elok.
“Ya pak, tapi saya masih ada jadwal kuliah.”
“Ah, it is nevermind, next I can tell about it to the tutor who’s teaching u.”
Aku pun hanya mengangguk, dan segera mensejajarkan diriku dibelakang bapak petinggi itu. Sekilas aku melirik teman-temanku yang sedang melambaikan tangan membentuk gerakan semangat untukku dari kejauhan, aku tersenyum.
---
“Kini kamu sudah tidak perlu lagi belajar disini anakku.”
Aku terdiam, atau lebih tepatnya aku bingung.
“Maksud anda pak?”
“Apa kamu tidak tahu, dan tidak membaca apa isi penghargaan itu?”
”Memang ada apa pak?”
”Kamu mendapatkan beasiswa ke luar negeri anakku, bagaimana kamu ini, mengikuti test, tapi tidak tahu apa yang selagi kau pertaruhkan dalam test itu”
”Ah kalau itu, saya jelas mengetahuinya pak."
”Bagus jika begitu. Selamat atas keberhasilanmu anakku. I’m really really bangga about what that you have done! I can't believe it.”
”Terima kasih pak. Tapi pak, sejujurnya saya masih tidak mengerti. Sebenarnya apa yang ingin bapak katakan sekarang? Saya tahu mengenai penghargaan itu, apa bapak memanggil saya karena ini juga berhubungan dengan penghargaan yang saya dapatkan?”
”Aish, bagaimana kau ini anak muda. Kau masih terlalu muda untuk berpikir lambat seperti itu, tentu saja aku memanggilmu karena itu. Aku ingin menyampaikan bahwa kau, Selca Hanki anak dari kampus terkenal di Bandung mendapat penghargaan terbesar pada 'The Test Math Jadid Of Generation 2010/2011' dan mendapatkan beasiswa besar 'S2' menuju Negeri Ginseng yang akan segera kau nikmati pada minggu ini, tepatnya besok."
Ucap petinggi tua itu panjang lebar dengan sedikit intonasi penekanan dimana-mana. Sedangkan aku hanya membeku dalam ruhku dengan mulut yang membentuk 'O' oval.
"Wa? Bagaimana bisa pak? Ini terlalu cepat." Sambitku segera.
"Ah, tentu tidak. Hei! Tahukah kau? Semua kesempatan ini hanya berlangsung sekarang, saat ini. Tidak sopan sekali kau mengatakan ini terlalu cepat. Jadi, aku tunggu kau besok dikantor kepengurusanku, kita atur tiket pesawat dan pasport. Walau memang begitu mendadak, tapi itu tak masalah, karena pihak bersangkutan telah mengatur semuanya.”
"Ah tunggu, Negeri Ginseng? Apa yang kau maksud itu Korea pak? Bagaimana bisa ke Korea pak? Kenapa tidak Jepang? Hehe, lalu pak, saya tidak punya banyak uang untuk saat ini, apa tidak bisa di undurkan saja waktunya?” keluhku bertubi-tubi seraya memukul tengkukku sebal. Itu kebiasaan ku.
”Kau ini bagaimana, memang benar kau ini anak pintar, tapi sikapmu ini sangat lucu untuk anak sepintarmu. Tidak! Tidak ada kesempatan lain waktu. Pihak dari Korea sudah menchartermu untuk segera pergi secepatnya ke Korea. Lagipula, masalah uangmu, nanti pihak Korea sendiri yang akan membiayai kehidupan mu, baik sekolah, keseharianmu, dan tentu apapun itu. Kau dianggap tamu penting disana, jadi jangan berbuat bodoh, dan manfaatkanlah semuanya dengan baik, jangan lewatkan kesempatan ini. Mengerti?” Jelas petinggi itu tajam. Aku takut.
”Baik kalau begitu. Saya pamit pak, terimakasih.” sahutku pasrah lalu berlalu seraya mengenggam tangan pak petinggi yang tak lagi kencang itu. Memberi salam hormat.
”Ya, saya tunggu besok!”
Aku terdiam, atau lebih tepatnya aku bingung.
“Maksud anda pak?”
“Apa kamu tidak tahu, dan tidak membaca apa isi penghargaan itu?”
”Memang ada apa pak?”
”Kamu mendapatkan beasiswa ke luar negeri anakku, bagaimana kamu ini, mengikuti test, tapi tidak tahu apa yang selagi kau pertaruhkan dalam test itu”
”Ah kalau itu, saya jelas mengetahuinya pak."
”Bagus jika begitu. Selamat atas keberhasilanmu anakku. I’m really really bangga about what that you have done! I can't believe it.”
”Terima kasih pak. Tapi pak, sejujurnya saya masih tidak mengerti. Sebenarnya apa yang ingin bapak katakan sekarang? Saya tahu mengenai penghargaan itu, apa bapak memanggil saya karena ini juga berhubungan dengan penghargaan yang saya dapatkan?”
”Aish, bagaimana kau ini anak muda. Kau masih terlalu muda untuk berpikir lambat seperti itu, tentu saja aku memanggilmu karena itu. Aku ingin menyampaikan bahwa kau, Selca Hanki anak dari kampus terkenal di Bandung mendapat penghargaan terbesar pada 'The Test Math Jadid Of Generation 2010/2011' dan mendapatkan beasiswa besar 'S2' menuju Negeri Ginseng yang akan segera kau nikmati pada minggu ini, tepatnya besok."
Ucap petinggi tua itu panjang lebar dengan sedikit intonasi penekanan dimana-mana. Sedangkan aku hanya membeku dalam ruhku dengan mulut yang membentuk 'O' oval.
"Wa? Bagaimana bisa pak? Ini terlalu cepat." Sambitku segera.
"Ah, tentu tidak. Hei! Tahukah kau? Semua kesempatan ini hanya berlangsung sekarang, saat ini. Tidak sopan sekali kau mengatakan ini terlalu cepat. Jadi, aku tunggu kau besok dikantor kepengurusanku, kita atur tiket pesawat dan pasport. Walau memang begitu mendadak, tapi itu tak masalah, karena pihak bersangkutan telah mengatur semuanya.”
"Ah tunggu, Negeri Ginseng? Apa yang kau maksud itu Korea pak? Bagaimana bisa ke Korea pak? Kenapa tidak Jepang? Hehe, lalu pak, saya tidak punya banyak uang untuk saat ini, apa tidak bisa di undurkan saja waktunya?” keluhku bertubi-tubi seraya memukul tengkukku sebal. Itu kebiasaan ku.
”Kau ini bagaimana, memang benar kau ini anak pintar, tapi sikapmu ini sangat lucu untuk anak sepintarmu. Tidak! Tidak ada kesempatan lain waktu. Pihak dari Korea sudah menchartermu untuk segera pergi secepatnya ke Korea. Lagipula, masalah uangmu, nanti pihak Korea sendiri yang akan membiayai kehidupan mu, baik sekolah, keseharianmu, dan tentu apapun itu. Kau dianggap tamu penting disana, jadi jangan berbuat bodoh, dan manfaatkanlah semuanya dengan baik, jangan lewatkan kesempatan ini. Mengerti?” Jelas petinggi itu tajam. Aku takut.
”Baik kalau begitu. Saya pamit pak, terimakasih.” sahutku pasrah lalu berlalu seraya mengenggam tangan pak petinggi yang tak lagi kencang itu. Memberi salam hormat.
”Ya, saya tunggu besok!”
Hatiku
benar-benar bersurak kini, aku benar-benar tak percaya! Tetapi semenit kemudian, aku kembali menundukkan kepalaku dalam. Aku takut. 'Tapi bukankah pasti menyenangkan pergi keluar negeri!' aku kembali menatap langit. Cerah. Yang kumaksud air mukaku. Walau masih ada sedikit keraguan. Tapi kini aku mulai tidak peduli, aku benar-benar senang. Walau aku tahu kegiatan ini hanya akan menambah kering otakku, 'setidaknya aku dapat menginjakkan kaki ke pulau yang sekarang sedang menjadi Trending Topic. Mungkin cukup untuk menjadikannya hiburan dikehidupanku yang penat.' Racau pikiranku tak karuan.
”Hai Sel!” waw, sapaan itu cukup membuyarkan semua racauan pikiranku. Ternyata Seta yang memanggilku.
“Ya?”
”Selamat atas penghargaan yang kamu dapatkan kemarin. Maaf aku sedikit___ terlambat.”
”Ya, terimakasih atas perhatianmu juga." jawabku asal. Kurasa, aku gugup.
Akupun berlanjut menjauh, seperti angin yang berhembus begitu saja. Sebelum aku berlalu jauh, Seta...
“Ayo kita ulang semua, Sel” bisiknya terlalu 'percaya diri' seraya menarik pergelangan tanganku dengan keras. Aku hanya melihatnya, dalam. Aku tak percaya ini, bagaimana bisa dia berbicara seperti itu dengan mudahnya. Ya, kuakui dia memanglah seseorang yang pernah mengisi hatiku, tapi semenjak keegoisannya muncul, kami berpisah. Tahukah, dia adalah seseorang yang sangat hebat bagiku, tapi itu dulu. Dalam bidang akademik yag kugelutikan sejauh ini, kuakui ia memiliki skill jauh lebih hebat dibandingkan dengan skill yang kupunya, dia adalah murid teladan di sekolah kami, kampus ini. Tentunya aku pernah belajar banyak darinya.
Akupun hanya mendesah pelan mendengar permintaannya itu, tersenyum dan menggelengkan kepala perlahan kemudian, seperlahan mungkin agar keputusan ini tak menyakitinya, bagaimanapun aku juga masih mencintainya. Lalu menjauh meninggalkan luka remang yang pernah menghantamku itu.
---
”Hai Sel!” waw, sapaan itu cukup membuyarkan semua racauan pikiranku. Ternyata Seta yang memanggilku.
“Ya?”
”Selamat atas penghargaan yang kamu dapatkan kemarin. Maaf aku sedikit___ terlambat.”
”Ya, terimakasih atas perhatianmu juga." jawabku asal. Kurasa, aku gugup.
Akupun berlanjut menjauh, seperti angin yang berhembus begitu saja. Sebelum aku berlalu jauh, Seta...
“Ayo kita ulang semua, Sel” bisiknya terlalu 'percaya diri' seraya menarik pergelangan tanganku dengan keras. Aku hanya melihatnya, dalam. Aku tak percaya ini, bagaimana bisa dia berbicara seperti itu dengan mudahnya. Ya, kuakui dia memanglah seseorang yang pernah mengisi hatiku, tapi semenjak keegoisannya muncul, kami berpisah. Tahukah, dia adalah seseorang yang sangat hebat bagiku, tapi itu dulu. Dalam bidang akademik yag kugelutikan sejauh ini, kuakui ia memiliki skill jauh lebih hebat dibandingkan dengan skill yang kupunya, dia adalah murid teladan di sekolah kami, kampus ini. Tentunya aku pernah belajar banyak darinya.
Akupun hanya mendesah pelan mendengar permintaannya itu, tersenyum dan menggelengkan kepala perlahan kemudian, seperlahan mungkin agar keputusan ini tak menyakitinya, bagaimanapun aku juga masih mencintainya. Lalu menjauh meninggalkan luka remang yang pernah menghantamku itu.
---
Pagi yang sudah
cukup terik kini membangunkanku, terlihat dari terikannya, matahari kini pasti tengah asyik menyemburkan kepanasannya menuju ruang dan benda yang ada disekitarnya. Termasuk ruang bumi dan diriku. Dan kemudian terlihat... jari jarum jam kini menunjukkan pukul =8:00=.
“Argh!!” teriakku. Aku cukup terkejut menyadari keterlambatanku, seketika aku berlari menerobos tirai blue saphire itu.
“Mengapa ibu tak membangunkanku?” tegurku pada ibu yang tengah berkutat di dapur menyiapkan sarapan kami.
“…” ibu hanya diam.
“Ibu? Ada apa denganmu? Apa ibu marah karena aku menegur ibu?” Melihat ibu yang diam, aku hanya menggeleng, kemudian bergegas keluar untuk mengambil handuk, tapi kemudian...
“Jangan pergi!” teriak ibu, sementara aku yang baru saja memasuki ruangan minimalis itu hanya memiringkan kepala. Bingung dengan apa yang baru saja dikatakan wanita paruh baya itu.
"Ada apa ibu?" tanyaku dengan bergelayut manja, lalu bergegas menuju ruang belakang untuk mencari kubangan kesegaran.
“Jangan pergi!” teriak ibu kembali tapi kini dengan tangisan kencang, lantas akupun bergegas menghampirinya kembali dengan setumpuk pertanyaan yang kini tengah memenuhi otakku. Bahkan aliran darahku pun dibuat tidak seimbang olehnya. Melihat ibu yang kini sedang terduduk pasrah dengan tangis. Segelintir rasa sakit mendesir dalam hatiku. Akupun mensejajarkan diriku, dengan duduk kecil dihadapannya.
Ada apa dengan ibu? Rutuk hatiku kini tak jelas, aku bergegas memeluknya.
“Ah, ibu kenapa? Apa ibu sedang tidak enak badan hari ini? Mengapa ibu menangis histeris seperti ini?” tanyaku kini mulai sedikit terisak. Aku takut dan sakit melihatnya seperti ini. Ibu melepaskan pelukanku dan kemudian berlari ke kamarnya, aku hanya mematung, lalu bergegas ke kamar mandi. Aku ingin ibu menenangkan dirinya sementara. Lagipula aku tidak ingin terlambat ke kampus hari ini.
--------------------------------------------------------------------------
Dalam kamar mandi, aku kembali terisak. Entah mengapa aku merasa tidak enak melihat ibu yang menangis tadi. Dan semenit kemudian, pikiranku telah melayang menuju penghargaan beasiswa yang segera akan kudapatkan hari ini. Haha. Rasanya sedikit puas.
Setelah berkubang lama dengan sabun-sabun, aku segera bergegas menuju kamar kecil bertirai blue saphire. Berniat mempersiapkan barang yang mungkin akan kuperlukan untuk hari ini.
'Brakk!' terdengar suara pintu yang terbuka dengan paksa. Kemudian hening_
"Ah, ibu. Apa yang ibu lakukan? Ibu mengagetkanku." Ucapku diiringi tawa kecil, berusaha memecah keheningan dan rasa canggung yang berbaur menjadi satu ini.
"Kau, Hanki. Segera rapihkan kembali barang-barang yang kau kemas itu! Ibu tak akan membiarkanmu pergi begitu saja keluar." Ucap ibu. Sungguh ketus.
"Ibu kenapa? Jelas aku hanya akan pergi ke kampus. Ada apa dengan ibu?"
"Tidak ada. Ibu sudah bilang, ibu hanya ingin melarangmu pergi ke kampus."
"Tapi kenapa?" Sahutku kini lebih sengit.
'Brakk!' Pintu kamar kembali tertutup dengan hentakan yang tak kalah keras dengan sebelumnya. Aku hanya mengelus dada pelan. Menenangkan jantungku yang hampir saja terlonjak keluar.
'Krek', aku terkejut kembali ketika pintu kamar terbuka pelan.
"Ibu tidak ingin kau pergi Hanki." Ucap ibu yang tengah terisak. Terisak?
"Ibu?" aku bergegas memeluk ibu yang kini air mukanya terlihat kacau. Namun, ibu menolak.
"Ada apa? Apa yang ibu katakan? Tunggu, ibu tahu tentang kepergianku menuju Korea? Tapi itu..."
"Ya, ibu tahu. Dan ibu tidak ingin mengetahuinya. Lekas bereskan barang-barangmu ke tempat semula, dan pergi tidur!"
"Ibu, ibu tidak bisa seperti ini kepadaku. Sebenarnya apa yang menjadi masalah? Anki sama sekali tak mengerti dengan apa yang menjadi masalah saat ini. Anki mohon ibu, jangan seperti ini." ucapku kini mulai prustasi. Aku benar-benar pusing saat ini. ------------- Sepersekian menit.
"Petinggi kampus itu menghubungi ibu bahwa kau harus pergi ke Korea hari ini. Ibu... tak tahu harus berbuat apa." lirih ibu pelan dan prustasi.
"I... ibu?"
"Petinggi itu memberitahuku tadi malam." hening. Ibu tak melanjutkan penjelasannya padaku. Satu pandang kemudian, ibu menatapku keras. Tajam lebih tepatnya.
"Kau, ingin tetap bersikeras ke Negeri asing itu? Kau ingin meninggalkanku? Kemudian semakin lama melupakanku. Dan akhirnya kau tak kembali pada ibu?" sambung ibu tak lepas dengan tatapannya yang tajam.
"Tidak ibu! Sekalipun aku pergi, aku tidak akan seperti itu! Aku anak ibu, bagaimana mungkin ibu berpikiran seperti itu terhadapku?!" cukup. Kini aku mulai gusar dengan pembicaraan ibu, yang kuanggap tabu.
'Drrrt' handphone kecil itu bergetar, menandakan sebuah panggilan tengah bertamu pada handphone berantena yang lebih mirip dengan pistol itu menurutku.
"Hallo, siapa?" ucapku ketus. kini moodku benar-benar tengah memburuk.
"Selca! Bagaimana kau ini, bergegaslah ke kantorku! Kau tahu? Disini aku tengah berlabuh dalam kesibukkan! Setidaknya kau harus membantuku dengan mengurus pasport-pasport yang akan mejadi milikmu ini!" protes petinggi itu keras. Membuatku sedikit menjauhkan speaker handphoneku ini, lalu terdiam. Aku bingung harus menjawab apa. Sedetik kemudian, aku melayangkan pandanganku pada ibu yang tengah mematung, bersender pada mulut pintu. Aku menghela nafas keras-keras. Prustasi. Dan kemudian melupakan panggilan penting itu, untuk berpikir keras.
”Berangkatlah Hanki, ibu sudah tak memikirkanmu." Aku segera mengangkat kepalaku keras. Apa yang ibu katakan tadi?
"Berangkatlah dan jaga dirimu baik-baik." Ulang ibu, seolah mengetahui bahwa aku masih saja terlambat dalam menafsirkan perkataannya.
" Hei! Sebelum ibu kembali berubah pikiran, kenapa kau malah diam saja! Lekas bereskan benda dan pakaianmu itu! Kemasi mereka, jangan sampai ada yang tertinggal disini. Ibu tak mau kau kesusahan disana.”
”Tapi bu?”
”Cepat pergi!!!” teriak ibu. Akupun berlari membawa barang-barang yang sudah ku kemasi keluar -seadanya-, tak lupa mencium tangan hangat ibu yang sudah sedari tadi penuh dengan air mata yang telah ditumpahkannya.
---------Akupun berlari sekuat aku berlari, hingga lupa dengan…(?) ponsel!
“Hallo pak?! Maaf saya sedang bergegas kesana! Maafkan saya, tadi ada hal penting yang harus saya urusi, jadi saya melupakan teleponnya pak! Hahaha. Saya tutup tidak apakan pak?” aku pun bergegas menutup percakapan, sekedar menghindari amukan pak petinggi yang sedari tadi berbicara ditelepon tanpa kuhiraukan sedikitpun.
“Argh!!” teriakku. Aku cukup terkejut menyadari keterlambatanku, seketika aku berlari menerobos tirai blue saphire itu.
“Mengapa ibu tak membangunkanku?” tegurku pada ibu yang tengah berkutat di dapur menyiapkan sarapan kami.
“…” ibu hanya diam.
“Ibu? Ada apa denganmu? Apa ibu marah karena aku menegur ibu?” Melihat ibu yang diam, aku hanya menggeleng, kemudian bergegas keluar untuk mengambil handuk, tapi kemudian...
“Jangan pergi!” teriak ibu, sementara aku yang baru saja memasuki ruangan minimalis itu hanya memiringkan kepala. Bingung dengan apa yang baru saja dikatakan wanita paruh baya itu.
"Ada apa ibu?" tanyaku dengan bergelayut manja, lalu bergegas menuju ruang belakang untuk mencari kubangan kesegaran.
“Jangan pergi!” teriak ibu kembali tapi kini dengan tangisan kencang, lantas akupun bergegas menghampirinya kembali dengan setumpuk pertanyaan yang kini tengah memenuhi otakku. Bahkan aliran darahku pun dibuat tidak seimbang olehnya. Melihat ibu yang kini sedang terduduk pasrah dengan tangis. Segelintir rasa sakit mendesir dalam hatiku. Akupun mensejajarkan diriku, dengan duduk kecil dihadapannya.
Ada apa dengan ibu? Rutuk hatiku kini tak jelas, aku bergegas memeluknya.
“Ah, ibu kenapa? Apa ibu sedang tidak enak badan hari ini? Mengapa ibu menangis histeris seperti ini?” tanyaku kini mulai sedikit terisak. Aku takut dan sakit melihatnya seperti ini. Ibu melepaskan pelukanku dan kemudian berlari ke kamarnya, aku hanya mematung, lalu bergegas ke kamar mandi. Aku ingin ibu menenangkan dirinya sementara. Lagipula aku tidak ingin terlambat ke kampus hari ini.
--------------------------------------------------------------------------
Dalam kamar mandi, aku kembali terisak. Entah mengapa aku merasa tidak enak melihat ibu yang menangis tadi. Dan semenit kemudian, pikiranku telah melayang menuju penghargaan beasiswa yang segera akan kudapatkan hari ini. Haha. Rasanya sedikit puas.
Setelah berkubang lama dengan sabun-sabun, aku segera bergegas menuju kamar kecil bertirai blue saphire. Berniat mempersiapkan barang yang mungkin akan kuperlukan untuk hari ini.
'Brakk!' terdengar suara pintu yang terbuka dengan paksa. Kemudian hening_
"Ah, ibu. Apa yang ibu lakukan? Ibu mengagetkanku." Ucapku diiringi tawa kecil, berusaha memecah keheningan dan rasa canggung yang berbaur menjadi satu ini.
"Kau, Hanki. Segera rapihkan kembali barang-barang yang kau kemas itu! Ibu tak akan membiarkanmu pergi begitu saja keluar." Ucap ibu. Sungguh ketus.
"Ibu kenapa? Jelas aku hanya akan pergi ke kampus. Ada apa dengan ibu?"
"Tidak ada. Ibu sudah bilang, ibu hanya ingin melarangmu pergi ke kampus."
"Tapi kenapa?" Sahutku kini lebih sengit.
'Brakk!' Pintu kamar kembali tertutup dengan hentakan yang tak kalah keras dengan sebelumnya. Aku hanya mengelus dada pelan. Menenangkan jantungku yang hampir saja terlonjak keluar.
'Krek', aku terkejut kembali ketika pintu kamar terbuka pelan.
"Ibu tidak ingin kau pergi Hanki." Ucap ibu yang tengah terisak. Terisak?
"Ibu?" aku bergegas memeluk ibu yang kini air mukanya terlihat kacau. Namun, ibu menolak.
"Ada apa? Apa yang ibu katakan? Tunggu, ibu tahu tentang kepergianku menuju Korea? Tapi itu..."
"Ya, ibu tahu. Dan ibu tidak ingin mengetahuinya. Lekas bereskan barang-barangmu ke tempat semula, dan pergi tidur!"
"Ibu, ibu tidak bisa seperti ini kepadaku. Sebenarnya apa yang menjadi masalah? Anki sama sekali tak mengerti dengan apa yang menjadi masalah saat ini. Anki mohon ibu, jangan seperti ini." ucapku kini mulai prustasi. Aku benar-benar pusing saat ini. ------------- Sepersekian menit.
"Petinggi kampus itu menghubungi ibu bahwa kau harus pergi ke Korea hari ini. Ibu... tak tahu harus berbuat apa." lirih ibu pelan dan prustasi.
"I... ibu?"
"Petinggi itu memberitahuku tadi malam." hening. Ibu tak melanjutkan penjelasannya padaku. Satu pandang kemudian, ibu menatapku keras. Tajam lebih tepatnya.
"Kau, ingin tetap bersikeras ke Negeri asing itu? Kau ingin meninggalkanku? Kemudian semakin lama melupakanku. Dan akhirnya kau tak kembali pada ibu?" sambung ibu tak lepas dengan tatapannya yang tajam.
"Tidak ibu! Sekalipun aku pergi, aku tidak akan seperti itu! Aku anak ibu, bagaimana mungkin ibu berpikiran seperti itu terhadapku?!" cukup. Kini aku mulai gusar dengan pembicaraan ibu, yang kuanggap tabu.
'Drrrt' handphone kecil itu bergetar, menandakan sebuah panggilan tengah bertamu pada handphone berantena yang lebih mirip dengan pistol itu menurutku.
"Hallo, siapa?" ucapku ketus. kini moodku benar-benar tengah memburuk.
"Selca! Bagaimana kau ini, bergegaslah ke kantorku! Kau tahu? Disini aku tengah berlabuh dalam kesibukkan! Setidaknya kau harus membantuku dengan mengurus pasport-pasport yang akan mejadi milikmu ini!" protes petinggi itu keras. Membuatku sedikit menjauhkan speaker handphoneku ini, lalu terdiam. Aku bingung harus menjawab apa. Sedetik kemudian, aku melayangkan pandanganku pada ibu yang tengah mematung, bersender pada mulut pintu. Aku menghela nafas keras-keras. Prustasi. Dan kemudian melupakan panggilan penting itu, untuk berpikir keras.
”Berangkatlah Hanki, ibu sudah tak memikirkanmu." Aku segera mengangkat kepalaku keras. Apa yang ibu katakan tadi?
"Berangkatlah dan jaga dirimu baik-baik." Ulang ibu, seolah mengetahui bahwa aku masih saja terlambat dalam menafsirkan perkataannya.
" Hei! Sebelum ibu kembali berubah pikiran, kenapa kau malah diam saja! Lekas bereskan benda dan pakaianmu itu! Kemasi mereka, jangan sampai ada yang tertinggal disini. Ibu tak mau kau kesusahan disana.”
”Tapi bu?”
”Cepat pergi!!!” teriak ibu. Akupun berlari membawa barang-barang yang sudah ku kemasi keluar -seadanya-, tak lupa mencium tangan hangat ibu yang sudah sedari tadi penuh dengan air mata yang telah ditumpahkannya.
---------Akupun berlari sekuat aku berlari, hingga lupa dengan…(?) ponsel!
“Hallo pak?! Maaf saya sedang bergegas kesana! Maafkan saya, tadi ada hal penting yang harus saya urusi, jadi saya melupakan teleponnya pak! Hahaha. Saya tutup tidak apakan pak?” aku pun bergegas menutup percakapan, sekedar menghindari amukan pak petinggi yang sedari tadi berbicara ditelepon tanpa kuhiraukan sedikitpun.
Sesampainya, ”Hei anak lucu! Bergegaslah, semuanya sudah
kusiapkan, kau tinggal menaiki pesawat dan lepas landas. Ah iya, barang-barangmu! Uruslah
semuanya dengan baik. Aku titipkan nama sekolah padamu, bukan… bukan hanya
sekolah tapi Negara ini, Negara Indonesia” pesan pak petinggi.
“Ya pak, saya pasti akan menjaga nama baik semua, saya juga akan membanggakan bapak dan orang-orang yang saya cintai lainnya, dan masalah pembicaraan tadi di telepon saya minta maaf pak, hehe.” cibirku. Air muka pak petinggi berubah seketika.
”Ya, lupakan itu. Sekarang kau cepat berlarilah nak! Pesawat akan segera lepas landas!”
”Yaiy, siap pak!!!” akupun mencium tangan pak petinggi itu, kemudian berlari.
“Ya pak, saya pasti akan menjaga nama baik semua, saya juga akan membanggakan bapak dan orang-orang yang saya cintai lainnya, dan masalah pembicaraan tadi di telepon saya minta maaf pak, hehe.” cibirku. Air muka pak petinggi berubah seketika.
”Ya, lupakan itu. Sekarang kau cepat berlarilah nak! Pesawat akan segera lepas landas!”
”Yaiy, siap pak!!!” akupun mencium tangan pak petinggi itu, kemudian berlari.
---------------------------------------------------------
"Ah, selamat siang dan permisi nona. Penerbangan menuju Korea telah berakhir. Maaf saya telah lancang mengganggu waktu istirahat nona." Ucap seorang wanita cantik membangunkanku dengan Bahasa Inggrisnya yang kurasa, sangat mudah untuk diucapkannya.
"Ah, Terima kasih. Ah, bukan... thank you so much. Gomawoyo," ucapku semanis mungkin. Wanita cantik itu hanya mengangguk pelan dan bergegas meninggalkanku yang masih bermata merah karena hibernasi panjang. Sesaat, akupun meregangkan tubuhku pelan, memberi ruang pada saraf-saraf yang sedari tadi telah menegang. ----
'Incheon Airport' papan yang terpampang besar itu sedikit mengusik penglihatanku. "Ah, ternyata ini bandara yang terkenal terbaik di dunia pada tahun 2005-2012 yang dinaubatkan oleh Airports Council International itu." gumamku yang kemudian terkagum-kagum pada fasilitas-fasilitas disekitarnya.
"Woaa, apa... apa-apaan ini?! Indah sekali tempatnya. Indah bukan main!" teriakku kemudian. Setelah memasuki bangunan megah ini lebih dalam. Masa bodoh dengan prilaku kampunganku seperti ini, lagipula tidak akan ada yang mengerti apa yang aku katakan. Haha
"Selamat berjuang!!" Pekikku kemudian, membuat khalayak disekitarku menatap tajam. Aku hanya berlari kemudian,
"Aku tidak peduli! hahay"
-----------------TBC-------------------
"Ah, Terima kasih. Ah, bukan... thank you so much. Gomawoyo," ucapku semanis mungkin. Wanita cantik itu hanya mengangguk pelan dan bergegas meninggalkanku yang masih bermata merah karena hibernasi panjang. Sesaat, akupun meregangkan tubuhku pelan, memberi ruang pada saraf-saraf yang sedari tadi telah menegang. ----
'Incheon Airport' papan yang terpampang besar itu sedikit mengusik penglihatanku. "Ah, ternyata ini bandara yang terkenal terbaik di dunia pada tahun 2005-2012 yang dinaubatkan oleh Airports Council International itu." gumamku yang kemudian terkagum-kagum pada fasilitas-fasilitas disekitarnya.
"Woaa, apa... apa-apaan ini?! Indah sekali tempatnya. Indah bukan main!" teriakku kemudian. Setelah memasuki bangunan megah ini lebih dalam. Masa bodoh dengan prilaku kampunganku seperti ini, lagipula tidak akan ada yang mengerti apa yang aku katakan. Haha
"Selamat berjuang!!" Pekikku kemudian, membuat khalayak disekitarku menatap tajam. Aku hanya berlari kemudian,
"Aku tidak peduli! hahay"
-----------------TBC-------------------
Mianhae^^ FF ini lumayan panjang untuk sampai ke klimaks. "FF tapi kok panjang?" Mianhae lagi^^ , maklum penulis baru. Ini FF pertama^^ Silahkan tinggalkan jejak.
By : Putri Sundari


Tidak ada komentar:
Posting Komentar