Title : LOVE’Song
Author : Putri Sundari
Genre : Romance, Sad
Rating : T
Length : Chapter
Pairing : Kim Jong Woon, Han Tae Young (OC)
“Hey cham isanghae jeongmal strange, ireon jeok eobseonneunde neol bolttaemada na dugeundugeun tteollineunge… When i see your face honja mak sangsangeul hae, na pyojeong gwalli andwae michil geot gata tto niga niga bogo sipeoseo…………….. “
“Yaaak! Apa-apaan itu!” geram Taeyoung mendengar audio yang sedang melantunkan lagu SISTAR untuk melatih tariannya itu mati mendadak begitu saja. Sejenak Taeyoung merasakan hangat nafas menghembus kearahnya begitu saja, namun segera ditepisnya. ‘Mungkin angin lalu’ benaknya, kemudian segera menghampiri audio berukuran besar itu dan mengetuknya.
“Hyaaaa! Menyala kau! Kau membuatku prustasi!” pekiknya penuh amarah. Kini Taeyoung mulai mendengus prustasi , tangannya tak henti menekan tombol audio besar itu sembarang, pikiran kalutnya mencoba mencari tombol Open untuk cepat mengeluarkan kaset itu, berniat menggigit kasetnya hingga menjadi hobak juk (red:sejenis bubur) makanan yang digemarinya. Sayangnya, itu hanya pikiran konyolnya.
“Kyaaa!” pekiknya kembali ketika menyadari ada sesuatu yang halus menggelantung begitu saja di kulit-kulit permukaan lubang hidungnya sesaat kaset itu berhasil lolos dikeluarkan.
“Waeyo Hanyoung?” tanya Jongwoon dengan wajah polos menggemaskannya itu, persis di hadapan Taeyoung. Taeyoung yang belum sepenuhnya tersadar hanya menelusuri wajah namja tampan itu dengan tatapan ‘tidak mengerti’nya.
‘Mata berbinar, hidung yang manis, pipi yang menggemaskan, tangan mungil itu… tangan itu memegang, memegang philtrumku!’
“Yak! Apa yang kau lakukan disini!” pekik Taeyoung seraya menghamburkan dirinya ke lantai, kemudian menatap tajam Jongwoon yang hanya sedang tersenyum geli.
“Aku? Aku hanya sedang membangunkanmu.” Ujarnya riang seraya mengaitkan kembali earphone merahnya yang dibiarkan terlepas sejenak. Air mukanya kembali dingin seperti biasa. Taeyoung mendecak, menahan amarahnya yang kini sedang membuncah bebas memenuhi rongga dadanya. Begitulah Jongwoon, sahabat kecilnya itu selalu saja melakukan apapun seenaknya –atau mungkin lebih tepatnya hanya terhadap dirinya-.
Hening.
Keduanya tampak sibuk tenggelam dengan benaknya masing-masing. Taeyoung yang tengah merutuki mimpi menyebalkannya, dan Jongwoon yang bergumam tak jelas dengan lagu yang tengah mendendangnya itu.
“Yak! Enyahlah dari kasur tuan putri! Kau itu sangat bau dan jorok Jongwoon! Tak akan kubiarkan kau mengotori kasurku!” pekik Taeyoung sedetik kemudian memecah keheningan, dikoyaknya pundak Jongwoon yang sedari tadi hanya terdiam, dan menggumam tak jelas.
“Michil geot gata tto niga niga bogo sipeoseo I wanna say uuu,” gumam Jongwoon tak jelas, Taeyoung yang menyadari gumaman itu sontak tertawa keras.
“Bwahahaha! Kau menyanyikan lagu Sistar Woon! Kkkk~” ucap Taeyoung seraya terkikik geli.
“Memangnya tidak boleh? Lagunya itu sangat enak didengar,” keluh Jongwoon seraya membalikkan badannya menghadap Taeyoung yang sedari tadi telah membaringkan diri tepat disebelah Jongwoon.
“Kkkk~ ne, siapa yang melarangmu. Aku hanya bertanya, dasar kepala besar menyebalkan. Berhenti memandangku seperti itu!” ujar Taeyoung yang sesaat menyadari tatapan tajam Jongwoon seperti ingin melahapnya bulat-bulat.
“Anni! Aku tidak sedang menatapmu Hanyoung! Aku sedang memperhatikan kerak putih yang berada disekitar bibirmu,”
“Yaaaaakkk!”
“Annyeong Hanyoung,” ujar suara berat yang sontak menggaung dalam ballroom luas tak berpenghuni itu.
“Panggil aku Taeyoung. Han Tae Young. Arraseo? Jongwoon ah kau selalu saja merusak namaku.” Keluh Taeyoung yang masih terfokus pada luka ibu jarinya itu.
“Ne. Apapun itu, terserah kau saja. Kau butuh ini kan Hanyoung?” ucap Jongwoon seraya melemparkan sebuah kotak berisikan obat-obatan. Taeyoung pun meliriknya, dan mendecak kagum.
“Kau bukan peramal. Bagaimana kau tahu aku sedang terluka Jongwoon ah?” ujarnya dengan mata berbinar. Jongwoon hanya terkikik geli melihatnya.
“Kau ini benar-benar sakit Hanyoung ah, otakmu itu benar-benar sakit. Kkkk, dan tatapanmu itu sungguh menggemaskan. Kkk~” Jongwoon tertawa geli. Tanpa sepengetahuannya, Taeyoung merekam semua itu dalam memori otaknya. Taeyoung tak ingin membiarkan moment seperti ini hilang begitu saja tanpa dikenang dan dirasakannya. Taeyoung memang menyukai Jongwoon sejak lama. Semua perasaan itu tumbuh begitu saja dalam benaknya tanpa ia sadari dan tanpa bisa ia cegah. Semakin lama dan semakin ia menepis semuanya, semakin rumit untuknya mencegah perasaan itu tumbuh dalam benaknya. Ia benar-benar jatuh cinta. Sayangnya ia tak pernah yakin, benarkah perasaan ini benar adanya? Jongwoon yang merupakan sahabat kecilnya benar-benar menjadi hunusan kenyataan tajam yang pelik baginya. Bila ia tersadar dan mengingatnya, maka seketika itu pula Taeyoung akan sering kali menepis perasaannya jauh. Sangat jauh hingga ia merasa tidak akan sanggup untuk menghinggapinya kembali.
Tanpa Taeyoung sadari, luka yang mendera ibu jari kakinya kini sudah terbalut kain bercak, tentu saja Jongwoon yang membalut luka itu. Jongwoon memang sejenis spesies yang sulit untuk ditebaknya. Walau mereka sekian lama berteman. Sering diakui, Taeyoung masih saja sulit memahami Jongwoon yang cenderung berkepribadian aneh.
Jongwoon mengibaskan tangannya bebas tepat dihadapan wajah yang sedang memandangnya kosong itu, “Kau? Kau terkesan dengan ketampananku ya?” ujarnya sesaat sebelum menghentikan kegiatan tangan kecilnya itu. Mendengarnya, Taeyoung terhenyak untuk beberapa saat kemudian samar-samar air mata jatuh dari pelupuk matanya kilat. Jongwoon yang menyadarinya seketika menyeringaikan pandangannya, mencari tahu kebenaran yang baru saja terjadi. Benarkah itu air mata?
“Kau menangis Hanyoung ah?” selidik Jongwoon seraya mendekatkan dirinya dengan Taeyoung, semakin dekat hingga membuat Taeyoung salah tingkah.
“Tentu saja. Kau yang membuatku menangis Jongwoon!” sentak Taeyoung seraya mendorong mundur tubuh namja itu perlahan untuk memberi sedikit jarak dengannya. Jongwoon hanya menunjuk dirinya sendiri dengan tak yakin, diiringi Taeyoung yang mengangguk menegaskan.
“Aaah, aku tidak menyangka ada yang begitu mengagumi ketampananku ini.” Ujar Jongwoon tiba-tiba dengan ekspresi penuh haru. Taeyoung hanya memandang sebal kearah temannya itu.
“Rupanya kau sangat senang membuat orang prustasi Jongwoon sshi,” ucap Taeyoung seraya beranjak dari duduknya, kemudian menyentil dahi namja itu pelan. Jongwoon meringis mengada-ada.
Taeyoung menghampiri audionya itu perlahan, pandangannya terfokus pada badan pemandangan yang terukir indah dari balik jendela dihadapannya. Ia menatap sendu hamparan langit yang begitu indah itu.
“Kau merindukan ibumu Hanyoung?” tanya Jongwoon yang kini tepat berapa disamping belakangnya. Untuk sesaat ia terkejut dengan Jongwoon yang tiba-tiba saja berada dibelakangnya, dan lebih terkejut lagi saat pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut namja itu. Persis dengan pertanyaan diotaknya yang tengah saling berdebur pada waktu-waktu yang lalu. Taeyoung hanya diam tak berkutik. Ia enggan menjawab pertanyaan yang menurutnya tabu itu.
“Kenapa malah diam? Kau memang tidak, atau kau bingung dengan jawabanmu sendiri,” selidik Jongwoon tajam. Jongwoon memang tahu persis apa yang terjadi dengan Taeyoung dan keluarganya. Taeyoung memang seperti dicampakkan oleh kedua orang tuanya, orang tuanya pergi meninggalkannya begitu saja ketika Taeyoung menginjak usia remaja. Sungguh mengenaskan mungkin, tapi untunglah eomma Jongwoon yang baik mau menemaninya hingga ia sedewasa kini.
Taeyoung masih saja membungkam dirinya. Diliriknya Jongwoon yang ternyata sudah mengalihkan pandangannya menuju apa yang ia lihat tadi. Awan.
“Kau sangat menyukai mereka ya?” tanya jongwoon dengan nada yang melembut. Sangat berbeda dengan Jongwoon yang tadi menatapnya tajam penuh selidik. Taeyoung pun hanya menarik gurat bibirnya sebelah arah. Ia hanya setengah tersenyum. Kemudian sibuk dengan kaset audio yang kini tengah diputarnya mundur kebelakang.
“Istirahatlah, kenapa kau begitu keras kepala Hanyoung ah. Jangan pikirkan perasaanmu sendiri, pikirkan juga dengan kesehatan fisik tubuhmu. Kau sudah sering kali menyakiti mereka, kini biarlah mereka beristirahat terlebih dahulu. Bagaimanapun kesehatan tubuhmu juga sangat penting, kau tahu? Teman-temanku semua mengeluhkan keadaanmu padaku, kata mereka kau sekarang tidak tampak seksi lagi seperti dulu. Mungkin keseksianmu itu terlalu banyak tertutup luka goresan lecet itu. Jadi…”
“Cerewet,” dengus Taeyoung lirih, ia masih terfokus pada audio yang masih memutar kasetnya mundur. Mendengar itu, Jongwoon hanya mengerucutkan bibirnya sekali-kali. Taeyoung terkadang benar-benar sangat bingung dengan apa yang dilakukan Jongwoon terhadapnya. Kadang Jongwoon bisa menjadi sangat dingin terhadapnya, kadang ia begitu aneh dihadapannya, dan terkadang Jongwoon sangatlah hangat, dan perhatian padanya. Seperti sekarang ini.
Taeyoung kemudian memutarkan lagu pengiring tariannya –SISTAR-, lagu hits terbaru salah satu girlband korea yang popularitasnya kini sedang melejit. Jongwoon hanya memandangi Taeyoung yang kini tengah melatih dance talent nya dengan setengah iba, tercetak jelas guratan rasa lelah yang terlukis pada wajah manis yeoja itu, dan sesekali membuang nafasnya sesak. Jongwoon sangat ingin menghentikan semua hal yang dilakukan yeoja cantik itu, yeoja yang telah sangat berjuang keras untuk hidupnya selama 7 tahun penuh, tanpa patah arang sedikitpun, sekalipun ia telah kehilangan semuanya.
“Dance mu itu masih tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ku Hanyoung ah,” ujar Jongwoon tiba-tiba dengan laganya yang angkuh. Taeyoung yang sedang berlatih tariannya tiba-tiba saja terdiam dan meliriknya tajam, kemudian tertawa keras.
“Kau berlebihan Hanyoung ah~” cibir Jongwoon sebal melihat Taeyoung yang terus saja mentertawakannya. “Apa yang salah? Aku memang memimpikan tarianku bagus melebihinya,” sungut Jongwoon dalam hatinya, melihat Taeyoung yang masih saja meneruskan tawa kerasnya. Menyebalkan.
“Yak! Yaaaakk! Berhenti mentertawaiku! Aiish,” gertaknya kemudian. Sekarang Jongwoon merasa Taeyoung benar-benar menyebalkan!
“Ahh, ehmm. Ne, aku sudah selesai sekarang,” ucapnya dengan masih tersenyum-senyum. Tapi itu sangatlah menyebalkan dimata Jongwoon saat ini.
“Kau! Cepatlah berdiri!” titah Taeyoung seraya menunjukan smirknya. Jongwoon yang masih terduduk hanya memandangnya bingung.
“Yaaak! Berapa IQ mu itu sebenarnya Jongwoon! Ku suruh berdiri saja kau hanya bingung menatapku,” ujarnya kemudian terkekeh meledek.
“Yak, aku ini lebih tua darimu! Sampai kapan kau akan bersikap tidak sopan padaku Hanyoung ah! Bahkan kau tak pernah memanggilku dengan hormat,” teriak Jongwoon kemudian menggembungkan pipinya.
“kau membuatku gemas Jongwoon, ikuti saja perintahku. Apa itu terlihat sulit?” ujar Taeyoung sesaat sebelum ia menarik Jongwoon untuk berdiri membelakanginya.
“Lihat aku, kemudian ikuti gerakan yang aku lakukan. Arraseo?” Jongwoon hanya mengangguk pelan menanggapinya. Ia sedikit ragu jika harus berhubungan dengan tarian, walaupun kini ia dan Taeyoung sama-sama tengah bersekolah di sekolah seni terkenal di Korea, namun tetap saja ia tidak seahli seperti yang dikatakannya –tadi-, mengingat jurusan yang diambilnya bukanlah kelas TARI, melainkan kelas vocal.
Kywon High School Of Arts, itulah dimana keduanya bersekolah. Sekolah seni yang memang cukup terkenal di Korea Selatan. Terletak di Bundang-gu, tidak cukup jauh dari Seoul. Keduanya memang cukup berbakat dalam bidang seni, namun tidak untuk di segala bidang. Han Tae Young yang cenderung sangat berbakat dengan Tari berbanding terbalik 180 derajat dengan Jongwoon yang pastinya akan lebih memilih vocal sebagai bakat terhebatnya. Meski begitu, keduanya memiliki hubungan yang baik walau terkadang kekurangan keduanya lah yang menjadi boomerang utama untuk keduanya.
Taeyoung mulai menarikan Blood-Elf Dance nya dengan lihai, Jongwoon hanya terdiam melihatnya. Bukan merasa terpesona. Tapi merasa tak sanggup bila ia harus melakukannya. Taeyoung yang merasa risih diperhatikan seperti itu, hanya melemparkan senyuman licik pada Jongwoon.
“Yak penari handal! Tunjukkan kehebatanmu!” ujar Taeyoung seraya terkekeh, dan masih terfocus pada tariannya. Jongwoon hanya meracau tak jelas, jelas ia sangat sebal dengan perlakuan Taeyoung yang selalu saja menggodanya. Selain selalu menggodanya dengan kekanakkan, Taeyoung pun tak pernah berlaku sopan padanya, memanggilnya pun Taeyoung tak pernah menggunakan embel-embel penghormatan. Bila suatu saat Jongwoon memintanya untuk memanggilnya dengan sopan, jelas Taeyoung akan mengabaikannya dan kemudian berkata “Kau seharusnya merasa senang aku tidak memanggilmu dengan embel penghormatan. Kau tahu? Embel penghormatan itu hanya untuk orang tua.” Kadang Jongwoon merasa lucu jika Taeyoung telah mengatakan mantra handalnya itu.
“Yaaaakkk!! Aku menyuruhmu untuk berlatih menari denganku Jongwoon ah! Bukan hanya berkicau tak jelas menyanyikan lagu Sistarku!!! Kau merusak lagu yang seharusnya enak untuk ku tarikan Jongwoon ah (ToT),” Jongwoon yang tidak sadar sedang mengikuti irama lagu dance, kini hanya melongo melihat Taeyoung yang sedang bermuka merah karena gusar. Jongwoon tersenyum jahil. Ditariknya pipi merah Taeyoung itu gemas.
“Kau berisik sekali Hanyoung ah, kau terus saja memarahiku dengan alasan-alasan sepihakmu. Berani sekali kau memperlakukanku seperti itu. Lihat saja, sebentar lagi pipimu yang besar ini akan kujadikan daging bakar empuk untuk Kkoming ku! Aaigoo, Kkoming pasti senang, hahaha.” Ujar Jongwoon dengan tawanya yang sinis –atau mungkin lebih mirip dengan tawa setan pada umumnya-, Taeyoung hanya terpukau melihatnya.
“Yaaaak, baru kali ini aku melihatmu semenyeramkan ini Jongwoon ah! Aigoo,” sesaat kemudian Taeyoung meraih tangan Jongwoon yang sedang mencubit pipinya itu. Kemudian menariknya kedalam pelukannya. Pelukan?
“Hahaha, bersiaplah pada ketukan yang keempat Jongwoon ah.” Bisik Taeyoung perlahan seraya mengatur posisinya dengan Jongwoon. Jongwoon hanya memandangnya shock. Ia masih belum juga bisa menterjemahkan apa yang terjadi padanya saat ini.
Tepat pada ketukan keempat, Taeyoung mengendalikan pergerakan keduanya. Mereka menarikan tarian salsa, walau tidak begitu banyak gerak yang harus Jongwoon lakukan. Namun tetap saja banyak debaran yang ia butuhkan untuk memompa jantungnya. Ia masih saja terkaget-kaget dengan hal yag dilakukannya bersama Taeyoung kini. Bukan karena gerakan yang sulit ia lakukan, melainkan karena posisinya kini berada sangat dekat dengan Taeyoung, bahkan terkesan menyatu. Samar-samar Jongwoon mencium aroma Taeyoung yang kini menempel dengannya. Harum Aquan Bulgary, parfum yang memang tak pernah lepas dari Taeyoung sepengetahuannya.
“Aw aw aw! Yaaaak!” Jongwoon teriak histeris, Taeyoung hanya tersenyum kecil melihat ekspresi menggelikan itu.
“Kau ini! Perhatikan ketukan tariannya! Lihat, untung saja sepatuku hanya sepatu kets putih polos, bagaimana jika sepatu yang kupakai adalah sepatu atlit sepak bola pada umumnya? Mati kau,” ucap Taeyoung yang kemudian menghentikan tarian salsa itu.
“Kau ini, menginjakku bukannya meminta maaf. Kau malah berbalik menyentakku. Menyebalkan,” ujar Jongwoon sesaat sebelum ia terduduk dan membuka sepatu kets merahnya.
“Ne, mianhaeyo baby Jongwoon.” Cibirnya seraya mencubit pipi Jongwoon gemas. Jongwoon hanya terdiam sebal atas perlakuannya. ‘Drrrtt…drttt’ Handphone yang berada disaku Jongwoon bergetar begitu saja. Jongwoon melepaskan cubitan yang di berikan Taeyoung begitu saja, kemudian bergegas menjauh menuju pojok ruangan.
2 Menit,
“Hanyoung ah, aku harus bergegas pergi. Min Young ku telah menunggu lama di kafe dekat M-Mall sana. Kalau kau mau, sehabis kau latihan kau bisa menjemputku. Kita pulang bersama. Annyeong,” ucap Jongwoon terburu-buru. Setelah memastikannya turun dari lantai tertinggi ini, Taeyoung pun menggeret langkahnya lemas menuju jendela besar yang kini telah dihadapannya. Dilihatnya Jongwoon yang sedang setengah berlari menuju gerbang depan.
“Kenapa kau selalu membuat perasaanku seperti ini oppa,” gumamnya lirih memandang badan tegap yang kini telah perlahan menghilang. Taeyoung mendekap tangan yang ditautkannya erat. Berusaha menghilangkan rasa getir dalam hatinya.
“Nde, gwaenchana. Aku tidak apa-apa Hyunmi ah.”
“…,”
“Hyukjae? Anni, dia tidak ada disini. Mungkin ia sedang menjenguk keponakannya di Everland.”
“…,”
“Yaaaakk! Kenapa kau berteriak seperti itu huh?! Moodku hari ini sedang buruk Hyunmi ah. Jangan berteriak seperti itu hanya karena aku berbicara melenceng dari topic pembicaraan yang kau atur,”
“…,”
“Ne, gwaenchanayo Hyunmi ah. Kalau kau memang sibuk, kau tidak usah memaksakan untuk pergi bersamaku hari ini.”
“…,”
“Ne, annyeong.” Taeyoung menundukkan kepalanya dalam, ia benar-benar sedang tidak baik hari ini. Dipandanginya kembali jendela besar yang menghubungkan jarak pandangnya itu dengan gerbang besar yang sedikit bergoyang karena tertiup angin, mungkin. Kemudian menatap awan putih yang menggumpal besar disekitarnya.
“Aku menyukai awan putih itu, karena kau juga menyukainya oppa. Dan mereka itu sangat mirip sepertimu.” Gumamnya, kemudian menghela nafas panjang. Dadanya kembali merasa sesak.
“Dia itu temanku, Min Young ah. Apa yang harus kujelaskan lagi untukmu,” tegas Jongwoon setelah sesaat menghela nafas sesaknya. MinYoung hanya menunduk, air matanya tak dapat lagi ia bendung. Yeoja itu menangis dalam diam. Walau begitu, Jongwoon dengan persis mengetahuinya.
“Kita akhiri sampai sini mungkin akan lebih baik ne?” ucap Yeoja itu masih dengan menundukkan kepalanya. Jongwoon meraih kedua belah pipi itu perlahan. Menghadapkan wajah yeoja yang tertunduk itu untuk lebih menatapnya.
“Kau yakin chagi?” ucap Jongwoon lembut. Wajahnya tak dapat lagi menyembunyikan luka yang dirasakannya. Bukan luka karena kisah cintanya yang berakhir begitu saja, melainkan luka karena ia lagi-lagi menyakiti seorang yeoja yang telah sangat mencintainya.
Yeoja itu mengangguk pelan. Berusaha menegaskan perasaan dan pernyataan yang telah diputuskannya sesaat tadi.
“Mianhae,” ucap Jongwoon tulus. Kemudian menundukkan kepalanya dan terdiam. Ia benar-benar bingung harus melakukan apa saat ini, hatinya benar-benar terluka. Lagi.
Ia terluka, karena untuk kesekian kalinya ia harus kembali menyakiti seorang yeoja yang telah sangat mencintai dirinya dengan tulus. Ya, untuk kesekian kalinya. Jongwoon memang telah beberapa kali menjalankan hubungan istimewa dengan beberapa teman yeojanya, namun hasilnya selalu nihil. Terhempas begitu saja di tengah jalan. Karena rasa bersalah yang telah mendarah daging dalam hatinya, Jongwoon tak pernah sekalipun memutuskan hubungannya dengan yeoja –lainnya- secara sepihak. Selalu saja ia membiarkan yeojanya yang memutuskannya.
“Gwaenchana Jongwoon ah, gomawo.” Ujar Min Young mengalihkan perhatian Jongwoon yang tadi tengah memusat pada ujung sepatu kets merahnya. Jongwoon mendongakkan kepalanya dan tersenyum. Miris.
Min Young membawa dirinya pergi begitu saja, meninggalkan kisah cintanya yang kini tengah tenggelam dalam pusaran suasana yang masih kentara itu. Sebelum melangkahkan kaki keluar, Lee Min Young kembali tersenyum ringan dan melirik Jongwoon yang tengah menatapnya –tatapan perpisahan-, “Kau bahkan tidak mengatakan tidak, Jongwoon ah,” ujarnya pelan, dan hampir saja tak terdengar bila Jongwoon tak memperhatikan Min Yeong dengan seksama. Kemudian berlalu dengan cepat. Seketika Jongwoon menutup matanya perlahan, berusaha menghempaskan rasa sakit yang menjalarinya saat ini.
“Hyaaa, setelah berhasil mematahkan setengah kuku ibu jari, kini aku juga berhasil mematahkan sebagian tulang kecil dikakiku.” Gumamnya pada diri sendiri, berusaha menghilangkan rasa sebalnya.
“Waeyo Hanyoung ah?” tanya suara berat seseorang yang tiba tepat berada di belakangnya. Taeyoung tidak menggubrisnya, dan tetap berjalan –beringsut- kedepan.
“Yak! Jawab aku Hanyoung ah! Dasar kau menyebalkan,” teriak namja itu prustasi.
“Kalau aku menjawab, kau akan semakin bawel bertanya. Lalu, kau akan memarahiku habis-habisan dengan tak jelas. Kalau benar begitu, aku lelah Jongwoon ah!!” teriak Taeyoung seraya mencibir. Tiba-tiba hatinya merasa hangat kembali dengan seseorang yang kini tengah menapaki tilas tapaknya.
“Benarkah begitu Hanyoung ah? hahaha. Bukankah aku namja yang perhatian Hanyoung ah? Karena itulah, tidak aneh lagi jika sangat banyak yeoja yang menyukaiku. Hahaha,” ujar Jongwoon yang kemudian tertawa keras. Taeyoung hanya mencibir tak jelas. Menyesal atas hal yang diucapkan sebelumnya.
‘Dukk!’ Taeyoung merasa ia telah menendang sesuatu yang sangat keras dihadapannya.
“Yak! Apa yang kau lakukan disitu Jongwoon ah?” teriaknya sedikit cemas melihat Jongwoon yang meringis lirih menahan sakit karena tendangannya.
“Aku ingin menawarkan punggungku Hanyoung ah, kenapa kau malah menendangku keras seperti itu? Aaarrggh,” ujar Jongwoon sedikit terbata. Taeyoung hanya tertawa kecil melihat tingkah konyol seorang namja yang ada dihadapannya.
“Itu salahmu sendiri, kenapa kau tidak memintaku terlebih dahulu?” cibir Taeyoung masih tak mau mengalah.
“Ne, apapun itu. Cepat naik ke punggungku! Aku ingin segera pulang, dan meminta Kkoming untuk memijat pantatku yang tadi tercap keras oleh tendangan Miss Tsubasa.” Ucap Jongwoon dengan setengah memaksa seraya berjongkok kembali dengan benar. Dibiarkannya bibir itu mengerucut asal. Lagi-lagi Taeyoung tersenyum kecil melihatnya.
“Namja ini benar-benar menggemaskan. Semoga degupan jantungku tak terdengar olehnya.” Singgah Taeyoung dalam hatinya. kemudian tersenyum.
Ia pun memposisikan dirinya perlahan, berharap berat badannya tidak menghambat aktivitas yang akan dilakukannya kini.
“Kau berat sekali ternyata.” Ujar Jongwoon tepat ketika Taeyoung berada dipangkuannya. Taeyoung hanya bisa mendengus mendengarnya. Itulah yang ditakutkannya sesaat sebelum ia berada dipangkuan Jongwoon.
“Lalu, kenapa kau bisa seperti ini Hanyoung ah?” tanya Jongwoon sesaat mereka mulai menapaki jalan sepi itu.
“Aku terjatuh ditangga Jongwoon.”
“Aigoo, kau benar-benar ceroboh Hanyoung ah! Kau ini,”
“Sudah kubilang jangan membahasnya Jongwoon. Kau pasti akan seperti ini bila terjadi sesuatu padaku. Kau ini sama sekali tidak…” Taeyoung menghentikan kalimatnya begitu saja. Menatap lurus. Jongwoon yang menyadarinya hanya mengikuti arah pandang Taeyoung yang jelas berada tepat didepan keduanya.
Author : Putri Sundari
Genre : Romance, Sad
Rating : T
Length : Chapter
Pairing : Kim Jong Woon, Han Tae Young (OC)
“Hey cham isanghae jeongmal strange, ireon jeok eobseonneunde neol bolttaemada na dugeundugeun tteollineunge… When i see your face honja mak sangsangeul hae, na pyojeong gwalli andwae michil geot gata tto niga niga bogo sipeoseo…………….. “
“Yaaak! Apa-apaan itu!” geram Taeyoung mendengar audio yang sedang melantunkan lagu SISTAR untuk melatih tariannya itu mati mendadak begitu saja. Sejenak Taeyoung merasakan hangat nafas menghembus kearahnya begitu saja, namun segera ditepisnya. ‘Mungkin angin lalu’ benaknya, kemudian segera menghampiri audio berukuran besar itu dan mengetuknya.
“Hyaaaa! Menyala kau! Kau membuatku prustasi!” pekiknya penuh amarah. Kini Taeyoung mulai mendengus prustasi , tangannya tak henti menekan tombol audio besar itu sembarang, pikiran kalutnya mencoba mencari tombol Open untuk cepat mengeluarkan kaset itu, berniat menggigit kasetnya hingga menjadi hobak juk (red:sejenis bubur) makanan yang digemarinya. Sayangnya, itu hanya pikiran konyolnya.
“Kyaaa!” pekiknya kembali ketika menyadari ada sesuatu yang halus menggelantung begitu saja di kulit-kulit permukaan lubang hidungnya sesaat kaset itu berhasil lolos dikeluarkan.
—
“Kyaaa!”“Waeyo Hanyoung?” tanya Jongwoon dengan wajah polos menggemaskannya itu, persis di hadapan Taeyoung. Taeyoung yang belum sepenuhnya tersadar hanya menelusuri wajah namja tampan itu dengan tatapan ‘tidak mengerti’nya.
‘Mata berbinar, hidung yang manis, pipi yang menggemaskan, tangan mungil itu… tangan itu memegang, memegang philtrumku!’
“Yak! Apa yang kau lakukan disini!” pekik Taeyoung seraya menghamburkan dirinya ke lantai, kemudian menatap tajam Jongwoon yang hanya sedang tersenyum geli.
“Aku? Aku hanya sedang membangunkanmu.” Ujarnya riang seraya mengaitkan kembali earphone merahnya yang dibiarkan terlepas sejenak. Air mukanya kembali dingin seperti biasa. Taeyoung mendecak, menahan amarahnya yang kini sedang membuncah bebas memenuhi rongga dadanya. Begitulah Jongwoon, sahabat kecilnya itu selalu saja melakukan apapun seenaknya –atau mungkin lebih tepatnya hanya terhadap dirinya-.
Hening.
Keduanya tampak sibuk tenggelam dengan benaknya masing-masing. Taeyoung yang tengah merutuki mimpi menyebalkannya, dan Jongwoon yang bergumam tak jelas dengan lagu yang tengah mendendangnya itu.
“Yak! Enyahlah dari kasur tuan putri! Kau itu sangat bau dan jorok Jongwoon! Tak akan kubiarkan kau mengotori kasurku!” pekik Taeyoung sedetik kemudian memecah keheningan, dikoyaknya pundak Jongwoon yang sedari tadi hanya terdiam, dan menggumam tak jelas.
“Michil geot gata tto niga niga bogo sipeoseo I wanna say uuu,” gumam Jongwoon tak jelas, Taeyoung yang menyadari gumaman itu sontak tertawa keras.
“Bwahahaha! Kau menyanyikan lagu Sistar Woon! Kkkk~” ucap Taeyoung seraya terkikik geli.
“Memangnya tidak boleh? Lagunya itu sangat enak didengar,” keluh Jongwoon seraya membalikkan badannya menghadap Taeyoung yang sedari tadi telah membaringkan diri tepat disebelah Jongwoon.
“Kkkk~ ne, siapa yang melarangmu. Aku hanya bertanya, dasar kepala besar menyebalkan. Berhenti memandangku seperti itu!” ujar Taeyoung yang sesaat menyadari tatapan tajam Jongwoon seperti ingin melahapnya bulat-bulat.
“Anni! Aku tidak sedang menatapmu Hanyoung! Aku sedang memperhatikan kerak putih yang berada disekitar bibirmu,”
“Yaaaaakkk!”
**
“Aiiissh, appeo! Bagaimana ini, sakit sekali.” Rintih
Taeyoung sesenggukan. Ini telah kali kedua Taeyoung mematahkan kuku jari
kaki kirinya dalam seminggu. Kini terlihat jelas ibu jari itu tanpa
kuku-kukunya. Ia mendecak pelan, “Whoaa, ini terlihat begitu keren.
Tanpa kuku, itu hal yang tidak biasa! Walau sedikit perih, tetapi
bersabarlah ibu jari.” Gumamnya seraya mengelus permukaan jari telanjang
itu, kemudian membersihkannya dengan kapas antiseptic.“Annyeong Hanyoung,” ujar suara berat yang sontak menggaung dalam ballroom luas tak berpenghuni itu.
“Panggil aku Taeyoung. Han Tae Young. Arraseo? Jongwoon ah kau selalu saja merusak namaku.” Keluh Taeyoung yang masih terfokus pada luka ibu jarinya itu.
“Ne. Apapun itu, terserah kau saja. Kau butuh ini kan Hanyoung?” ucap Jongwoon seraya melemparkan sebuah kotak berisikan obat-obatan. Taeyoung pun meliriknya, dan mendecak kagum.
“Kau bukan peramal. Bagaimana kau tahu aku sedang terluka Jongwoon ah?” ujarnya dengan mata berbinar. Jongwoon hanya terkikik geli melihatnya.
“Kau ini benar-benar sakit Hanyoung ah, otakmu itu benar-benar sakit. Kkkk, dan tatapanmu itu sungguh menggemaskan. Kkk~” Jongwoon tertawa geli. Tanpa sepengetahuannya, Taeyoung merekam semua itu dalam memori otaknya. Taeyoung tak ingin membiarkan moment seperti ini hilang begitu saja tanpa dikenang dan dirasakannya. Taeyoung memang menyukai Jongwoon sejak lama. Semua perasaan itu tumbuh begitu saja dalam benaknya tanpa ia sadari dan tanpa bisa ia cegah. Semakin lama dan semakin ia menepis semuanya, semakin rumit untuknya mencegah perasaan itu tumbuh dalam benaknya. Ia benar-benar jatuh cinta. Sayangnya ia tak pernah yakin, benarkah perasaan ini benar adanya? Jongwoon yang merupakan sahabat kecilnya benar-benar menjadi hunusan kenyataan tajam yang pelik baginya. Bila ia tersadar dan mengingatnya, maka seketika itu pula Taeyoung akan sering kali menepis perasaannya jauh. Sangat jauh hingga ia merasa tidak akan sanggup untuk menghinggapinya kembali.
Tanpa Taeyoung sadari, luka yang mendera ibu jari kakinya kini sudah terbalut kain bercak, tentu saja Jongwoon yang membalut luka itu. Jongwoon memang sejenis spesies yang sulit untuk ditebaknya. Walau mereka sekian lama berteman. Sering diakui, Taeyoung masih saja sulit memahami Jongwoon yang cenderung berkepribadian aneh.
Jongwoon mengibaskan tangannya bebas tepat dihadapan wajah yang sedang memandangnya kosong itu, “Kau? Kau terkesan dengan ketampananku ya?” ujarnya sesaat sebelum menghentikan kegiatan tangan kecilnya itu. Mendengarnya, Taeyoung terhenyak untuk beberapa saat kemudian samar-samar air mata jatuh dari pelupuk matanya kilat. Jongwoon yang menyadarinya seketika menyeringaikan pandangannya, mencari tahu kebenaran yang baru saja terjadi. Benarkah itu air mata?
“Kau menangis Hanyoung ah?” selidik Jongwoon seraya mendekatkan dirinya dengan Taeyoung, semakin dekat hingga membuat Taeyoung salah tingkah.
“Tentu saja. Kau yang membuatku menangis Jongwoon!” sentak Taeyoung seraya mendorong mundur tubuh namja itu perlahan untuk memberi sedikit jarak dengannya. Jongwoon hanya menunjuk dirinya sendiri dengan tak yakin, diiringi Taeyoung yang mengangguk menegaskan.
“Aaah, aku tidak menyangka ada yang begitu mengagumi ketampananku ini.” Ujar Jongwoon tiba-tiba dengan ekspresi penuh haru. Taeyoung hanya memandang sebal kearah temannya itu.
“Rupanya kau sangat senang membuat orang prustasi Jongwoon sshi,” ucap Taeyoung seraya beranjak dari duduknya, kemudian menyentil dahi namja itu pelan. Jongwoon meringis mengada-ada.
Taeyoung menghampiri audionya itu perlahan, pandangannya terfokus pada badan pemandangan yang terukir indah dari balik jendela dihadapannya. Ia menatap sendu hamparan langit yang begitu indah itu.
“Kau merindukan ibumu Hanyoung?” tanya Jongwoon yang kini tepat berapa disamping belakangnya. Untuk sesaat ia terkejut dengan Jongwoon yang tiba-tiba saja berada dibelakangnya, dan lebih terkejut lagi saat pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut namja itu. Persis dengan pertanyaan diotaknya yang tengah saling berdebur pada waktu-waktu yang lalu. Taeyoung hanya diam tak berkutik. Ia enggan menjawab pertanyaan yang menurutnya tabu itu.
“Kenapa malah diam? Kau memang tidak, atau kau bingung dengan jawabanmu sendiri,” selidik Jongwoon tajam. Jongwoon memang tahu persis apa yang terjadi dengan Taeyoung dan keluarganya. Taeyoung memang seperti dicampakkan oleh kedua orang tuanya, orang tuanya pergi meninggalkannya begitu saja ketika Taeyoung menginjak usia remaja. Sungguh mengenaskan mungkin, tapi untunglah eomma Jongwoon yang baik mau menemaninya hingga ia sedewasa kini.
Taeyoung masih saja membungkam dirinya. Diliriknya Jongwoon yang ternyata sudah mengalihkan pandangannya menuju apa yang ia lihat tadi. Awan.
“Kau sangat menyukai mereka ya?” tanya jongwoon dengan nada yang melembut. Sangat berbeda dengan Jongwoon yang tadi menatapnya tajam penuh selidik. Taeyoung pun hanya menarik gurat bibirnya sebelah arah. Ia hanya setengah tersenyum. Kemudian sibuk dengan kaset audio yang kini tengah diputarnya mundur kebelakang.
“Istirahatlah, kenapa kau begitu keras kepala Hanyoung ah. Jangan pikirkan perasaanmu sendiri, pikirkan juga dengan kesehatan fisik tubuhmu. Kau sudah sering kali menyakiti mereka, kini biarlah mereka beristirahat terlebih dahulu. Bagaimanapun kesehatan tubuhmu juga sangat penting, kau tahu? Teman-temanku semua mengeluhkan keadaanmu padaku, kata mereka kau sekarang tidak tampak seksi lagi seperti dulu. Mungkin keseksianmu itu terlalu banyak tertutup luka goresan lecet itu. Jadi…”
“Cerewet,” dengus Taeyoung lirih, ia masih terfokus pada audio yang masih memutar kasetnya mundur. Mendengar itu, Jongwoon hanya mengerucutkan bibirnya sekali-kali. Taeyoung terkadang benar-benar sangat bingung dengan apa yang dilakukan Jongwoon terhadapnya. Kadang Jongwoon bisa menjadi sangat dingin terhadapnya, kadang ia begitu aneh dihadapannya, dan terkadang Jongwoon sangatlah hangat, dan perhatian padanya. Seperti sekarang ini.
Taeyoung kemudian memutarkan lagu pengiring tariannya –SISTAR-, lagu hits terbaru salah satu girlband korea yang popularitasnya kini sedang melejit. Jongwoon hanya memandangi Taeyoung yang kini tengah melatih dance talent nya dengan setengah iba, tercetak jelas guratan rasa lelah yang terlukis pada wajah manis yeoja itu, dan sesekali membuang nafasnya sesak. Jongwoon sangat ingin menghentikan semua hal yang dilakukan yeoja cantik itu, yeoja yang telah sangat berjuang keras untuk hidupnya selama 7 tahun penuh, tanpa patah arang sedikitpun, sekalipun ia telah kehilangan semuanya.
“Dance mu itu masih tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ku Hanyoung ah,” ujar Jongwoon tiba-tiba dengan laganya yang angkuh. Taeyoung yang sedang berlatih tariannya tiba-tiba saja terdiam dan meliriknya tajam, kemudian tertawa keras.
“Kau berlebihan Hanyoung ah~” cibir Jongwoon sebal melihat Taeyoung yang terus saja mentertawakannya. “Apa yang salah? Aku memang memimpikan tarianku bagus melebihinya,” sungut Jongwoon dalam hatinya, melihat Taeyoung yang masih saja meneruskan tawa kerasnya. Menyebalkan.
“Yak! Yaaaakk! Berhenti mentertawaiku! Aiish,” gertaknya kemudian. Sekarang Jongwoon merasa Taeyoung benar-benar menyebalkan!
“Ahh, ehmm. Ne, aku sudah selesai sekarang,” ucapnya dengan masih tersenyum-senyum. Tapi itu sangatlah menyebalkan dimata Jongwoon saat ini.
“Kau! Cepatlah berdiri!” titah Taeyoung seraya menunjukan smirknya. Jongwoon yang masih terduduk hanya memandangnya bingung.
“Yaaak! Berapa IQ mu itu sebenarnya Jongwoon! Ku suruh berdiri saja kau hanya bingung menatapku,” ujarnya kemudian terkekeh meledek.
“Yak, aku ini lebih tua darimu! Sampai kapan kau akan bersikap tidak sopan padaku Hanyoung ah! Bahkan kau tak pernah memanggilku dengan hormat,” teriak Jongwoon kemudian menggembungkan pipinya.
“kau membuatku gemas Jongwoon, ikuti saja perintahku. Apa itu terlihat sulit?” ujar Taeyoung sesaat sebelum ia menarik Jongwoon untuk berdiri membelakanginya.
“Lihat aku, kemudian ikuti gerakan yang aku lakukan. Arraseo?” Jongwoon hanya mengangguk pelan menanggapinya. Ia sedikit ragu jika harus berhubungan dengan tarian, walaupun kini ia dan Taeyoung sama-sama tengah bersekolah di sekolah seni terkenal di Korea, namun tetap saja ia tidak seahli seperti yang dikatakannya –tadi-, mengingat jurusan yang diambilnya bukanlah kelas TARI, melainkan kelas vocal.
Kywon High School Of Arts, itulah dimana keduanya bersekolah. Sekolah seni yang memang cukup terkenal di Korea Selatan. Terletak di Bundang-gu, tidak cukup jauh dari Seoul. Keduanya memang cukup berbakat dalam bidang seni, namun tidak untuk di segala bidang. Han Tae Young yang cenderung sangat berbakat dengan Tari berbanding terbalik 180 derajat dengan Jongwoon yang pastinya akan lebih memilih vocal sebagai bakat terhebatnya. Meski begitu, keduanya memiliki hubungan yang baik walau terkadang kekurangan keduanya lah yang menjadi boomerang utama untuk keduanya.
Taeyoung mulai menarikan Blood-Elf Dance nya dengan lihai, Jongwoon hanya terdiam melihatnya. Bukan merasa terpesona. Tapi merasa tak sanggup bila ia harus melakukannya. Taeyoung yang merasa risih diperhatikan seperti itu, hanya melemparkan senyuman licik pada Jongwoon.
“Yak penari handal! Tunjukkan kehebatanmu!” ujar Taeyoung seraya terkekeh, dan masih terfocus pada tariannya. Jongwoon hanya meracau tak jelas, jelas ia sangat sebal dengan perlakuan Taeyoung yang selalu saja menggodanya. Selain selalu menggodanya dengan kekanakkan, Taeyoung pun tak pernah berlaku sopan padanya, memanggilnya pun Taeyoung tak pernah menggunakan embel-embel penghormatan. Bila suatu saat Jongwoon memintanya untuk memanggilnya dengan sopan, jelas Taeyoung akan mengabaikannya dan kemudian berkata “Kau seharusnya merasa senang aku tidak memanggilmu dengan embel penghormatan. Kau tahu? Embel penghormatan itu hanya untuk orang tua.” Kadang Jongwoon merasa lucu jika Taeyoung telah mengatakan mantra handalnya itu.
“Yaaaakkk!! Aku menyuruhmu untuk berlatih menari denganku Jongwoon ah! Bukan hanya berkicau tak jelas menyanyikan lagu Sistarku!!! Kau merusak lagu yang seharusnya enak untuk ku tarikan Jongwoon ah (ToT),” Jongwoon yang tidak sadar sedang mengikuti irama lagu dance, kini hanya melongo melihat Taeyoung yang sedang bermuka merah karena gusar. Jongwoon tersenyum jahil. Ditariknya pipi merah Taeyoung itu gemas.
“Kau berisik sekali Hanyoung ah, kau terus saja memarahiku dengan alasan-alasan sepihakmu. Berani sekali kau memperlakukanku seperti itu. Lihat saja, sebentar lagi pipimu yang besar ini akan kujadikan daging bakar empuk untuk Kkoming ku! Aaigoo, Kkoming pasti senang, hahaha.” Ujar Jongwoon dengan tawanya yang sinis –atau mungkin lebih mirip dengan tawa setan pada umumnya-, Taeyoung hanya terpukau melihatnya.
“Yaaaak, baru kali ini aku melihatmu semenyeramkan ini Jongwoon ah! Aigoo,” sesaat kemudian Taeyoung meraih tangan Jongwoon yang sedang mencubit pipinya itu. Kemudian menariknya kedalam pelukannya. Pelukan?
“Hahaha, bersiaplah pada ketukan yang keempat Jongwoon ah.” Bisik Taeyoung perlahan seraya mengatur posisinya dengan Jongwoon. Jongwoon hanya memandangnya shock. Ia masih belum juga bisa menterjemahkan apa yang terjadi padanya saat ini.
Tepat pada ketukan keempat, Taeyoung mengendalikan pergerakan keduanya. Mereka menarikan tarian salsa, walau tidak begitu banyak gerak yang harus Jongwoon lakukan. Namun tetap saja banyak debaran yang ia butuhkan untuk memompa jantungnya. Ia masih saja terkaget-kaget dengan hal yag dilakukannya bersama Taeyoung kini. Bukan karena gerakan yang sulit ia lakukan, melainkan karena posisinya kini berada sangat dekat dengan Taeyoung, bahkan terkesan menyatu. Samar-samar Jongwoon mencium aroma Taeyoung yang kini menempel dengannya. Harum Aquan Bulgary, parfum yang memang tak pernah lepas dari Taeyoung sepengetahuannya.
“Aw aw aw! Yaaaak!” Jongwoon teriak histeris, Taeyoung hanya tersenyum kecil melihat ekspresi menggelikan itu.
“Kau ini! Perhatikan ketukan tariannya! Lihat, untung saja sepatuku hanya sepatu kets putih polos, bagaimana jika sepatu yang kupakai adalah sepatu atlit sepak bola pada umumnya? Mati kau,” ucap Taeyoung yang kemudian menghentikan tarian salsa itu.
“Kau ini, menginjakku bukannya meminta maaf. Kau malah berbalik menyentakku. Menyebalkan,” ujar Jongwoon sesaat sebelum ia terduduk dan membuka sepatu kets merahnya.
“Ne, mianhaeyo baby Jongwoon.” Cibirnya seraya mencubit pipi Jongwoon gemas. Jongwoon hanya terdiam sebal atas perlakuannya. ‘Drrrtt…drttt’ Handphone yang berada disaku Jongwoon bergetar begitu saja. Jongwoon melepaskan cubitan yang di berikan Taeyoung begitu saja, kemudian bergegas menjauh menuju pojok ruangan.
2 Menit,
“Hanyoung ah, aku harus bergegas pergi. Min Young ku telah menunggu lama di kafe dekat M-Mall sana. Kalau kau mau, sehabis kau latihan kau bisa menjemputku. Kita pulang bersama. Annyeong,” ucap Jongwoon terburu-buru. Setelah memastikannya turun dari lantai tertinggi ini, Taeyoung pun menggeret langkahnya lemas menuju jendela besar yang kini telah dihadapannya. Dilihatnya Jongwoon yang sedang setengah berlari menuju gerbang depan.
“Kenapa kau selalu membuat perasaanku seperti ini oppa,” gumamnya lirih memandang badan tegap yang kini telah perlahan menghilang. Taeyoung mendekap tangan yang ditautkannya erat. Berusaha menghilangkan rasa getir dalam hatinya.
**
“Annyeong, Hyun Mi ah. Waeyo?” jawab
Taeyoung lemas. Kang Hyun Mi –sahabatnya- menghubunginya tepat ketika
rasa getir dalam hati itu belum mereda sepenuhnya. Dan inilah yang
membuat Taeyoung lemas dan malas untuk berbicara dengan siapapun.“Nde, gwaenchana. Aku tidak apa-apa Hyunmi ah.”
“…,”
“Hyukjae? Anni, dia tidak ada disini. Mungkin ia sedang menjenguk keponakannya di Everland.”
“…,”
“Yaaaakk! Kenapa kau berteriak seperti itu huh?! Moodku hari ini sedang buruk Hyunmi ah. Jangan berteriak seperti itu hanya karena aku berbicara melenceng dari topic pembicaraan yang kau atur,”
“…,”
“Ne, gwaenchanayo Hyunmi ah. Kalau kau memang sibuk, kau tidak usah memaksakan untuk pergi bersamaku hari ini.”
“…,”
“Ne, annyeong.” Taeyoung menundukkan kepalanya dalam, ia benar-benar sedang tidak baik hari ini. Dipandanginya kembali jendela besar yang menghubungkan jarak pandangnya itu dengan gerbang besar yang sedikit bergoyang karena tertiup angin, mungkin. Kemudian menatap awan putih yang menggumpal besar disekitarnya.
“Aku menyukai awan putih itu, karena kau juga menyukainya oppa. Dan mereka itu sangat mirip sepertimu.” Gumamnya, kemudian menghela nafas panjang. Dadanya kembali merasa sesak.
**
“Kau tahu oppa? Aku sangat cemburu dengan sikapmu terhadapnya.” Ujar yeoja itu seraya menatap lurus Jongwoon yang kini tepat terduduk dihadapannya.“Dia itu temanku, Min Young ah. Apa yang harus kujelaskan lagi untukmu,” tegas Jongwoon setelah sesaat menghela nafas sesaknya. MinYoung hanya menunduk, air matanya tak dapat lagi ia bendung. Yeoja itu menangis dalam diam. Walau begitu, Jongwoon dengan persis mengetahuinya.
“Kita akhiri sampai sini mungkin akan lebih baik ne?” ucap Yeoja itu masih dengan menundukkan kepalanya. Jongwoon meraih kedua belah pipi itu perlahan. Menghadapkan wajah yeoja yang tertunduk itu untuk lebih menatapnya.
“Kau yakin chagi?” ucap Jongwoon lembut. Wajahnya tak dapat lagi menyembunyikan luka yang dirasakannya. Bukan luka karena kisah cintanya yang berakhir begitu saja, melainkan luka karena ia lagi-lagi menyakiti seorang yeoja yang telah sangat mencintainya.
Yeoja itu mengangguk pelan. Berusaha menegaskan perasaan dan pernyataan yang telah diputuskannya sesaat tadi.
“Mianhae,” ucap Jongwoon tulus. Kemudian menundukkan kepalanya dan terdiam. Ia benar-benar bingung harus melakukan apa saat ini, hatinya benar-benar terluka. Lagi.
Ia terluka, karena untuk kesekian kalinya ia harus kembali menyakiti seorang yeoja yang telah sangat mencintai dirinya dengan tulus. Ya, untuk kesekian kalinya. Jongwoon memang telah beberapa kali menjalankan hubungan istimewa dengan beberapa teman yeojanya, namun hasilnya selalu nihil. Terhempas begitu saja di tengah jalan. Karena rasa bersalah yang telah mendarah daging dalam hatinya, Jongwoon tak pernah sekalipun memutuskan hubungannya dengan yeoja –lainnya- secara sepihak. Selalu saja ia membiarkan yeojanya yang memutuskannya.
“Gwaenchana Jongwoon ah, gomawo.” Ujar Min Young mengalihkan perhatian Jongwoon yang tadi tengah memusat pada ujung sepatu kets merahnya. Jongwoon mendongakkan kepalanya dan tersenyum. Miris.
Min Young membawa dirinya pergi begitu saja, meninggalkan kisah cintanya yang kini tengah tenggelam dalam pusaran suasana yang masih kentara itu. Sebelum melangkahkan kaki keluar, Lee Min Young kembali tersenyum ringan dan melirik Jongwoon yang tengah menatapnya –tatapan perpisahan-, “Kau bahkan tidak mengatakan tidak, Jongwoon ah,” ujarnya pelan, dan hampir saja tak terdengar bila Jongwoon tak memperhatikan Min Yeong dengan seksama. Kemudian berlalu dengan cepat. Seketika Jongwoon menutup matanya perlahan, berusaha menghempaskan rasa sakit yang menjalarinya saat ini.
**
Dalam jalan yang sepi itu, terlihat yeoja yang tengah
mengekspresikan mukanya dengan masam. Kaki kirinya dibiarkan beringsut
begitu saja diatas trotoar hitam, sesekali ia mendengus pelan ketika
matanya terpaut dengan kaki kiri yang tengah diingsutnya itu.“Hyaaa, setelah berhasil mematahkan setengah kuku ibu jari, kini aku juga berhasil mematahkan sebagian tulang kecil dikakiku.” Gumamnya pada diri sendiri, berusaha menghilangkan rasa sebalnya.
“Waeyo Hanyoung ah?” tanya suara berat seseorang yang tiba tepat berada di belakangnya. Taeyoung tidak menggubrisnya, dan tetap berjalan –beringsut- kedepan.
“Yak! Jawab aku Hanyoung ah! Dasar kau menyebalkan,” teriak namja itu prustasi.
“Kalau aku menjawab, kau akan semakin bawel bertanya. Lalu, kau akan memarahiku habis-habisan dengan tak jelas. Kalau benar begitu, aku lelah Jongwoon ah!!” teriak Taeyoung seraya mencibir. Tiba-tiba hatinya merasa hangat kembali dengan seseorang yang kini tengah menapaki tilas tapaknya.
“Benarkah begitu Hanyoung ah? hahaha. Bukankah aku namja yang perhatian Hanyoung ah? Karena itulah, tidak aneh lagi jika sangat banyak yeoja yang menyukaiku. Hahaha,” ujar Jongwoon yang kemudian tertawa keras. Taeyoung hanya mencibir tak jelas. Menyesal atas hal yang diucapkan sebelumnya.
‘Dukk!’ Taeyoung merasa ia telah menendang sesuatu yang sangat keras dihadapannya.
“Yak! Apa yang kau lakukan disitu Jongwoon ah?” teriaknya sedikit cemas melihat Jongwoon yang meringis lirih menahan sakit karena tendangannya.
“Aku ingin menawarkan punggungku Hanyoung ah, kenapa kau malah menendangku keras seperti itu? Aaarrggh,” ujar Jongwoon sedikit terbata. Taeyoung hanya tertawa kecil melihat tingkah konyol seorang namja yang ada dihadapannya.
“Itu salahmu sendiri, kenapa kau tidak memintaku terlebih dahulu?” cibir Taeyoung masih tak mau mengalah.
“Ne, apapun itu. Cepat naik ke punggungku! Aku ingin segera pulang, dan meminta Kkoming untuk memijat pantatku yang tadi tercap keras oleh tendangan Miss Tsubasa.” Ucap Jongwoon dengan setengah memaksa seraya berjongkok kembali dengan benar. Dibiarkannya bibir itu mengerucut asal. Lagi-lagi Taeyoung tersenyum kecil melihatnya.
“Namja ini benar-benar menggemaskan. Semoga degupan jantungku tak terdengar olehnya.” Singgah Taeyoung dalam hatinya. kemudian tersenyum.
Ia pun memposisikan dirinya perlahan, berharap berat badannya tidak menghambat aktivitas yang akan dilakukannya kini.
“Kau berat sekali ternyata.” Ujar Jongwoon tepat ketika Taeyoung berada dipangkuannya. Taeyoung hanya bisa mendengus mendengarnya. Itulah yang ditakutkannya sesaat sebelum ia berada dipangkuan Jongwoon.
“Lalu, kenapa kau bisa seperti ini Hanyoung ah?” tanya Jongwoon sesaat mereka mulai menapaki jalan sepi itu.
“Aku terjatuh ditangga Jongwoon.”
“Aigoo, kau benar-benar ceroboh Hanyoung ah! Kau ini,”
“Sudah kubilang jangan membahasnya Jongwoon. Kau pasti akan seperti ini bila terjadi sesuatu padaku. Kau ini sama sekali tidak…” Taeyoung menghentikan kalimatnya begitu saja. Menatap lurus. Jongwoon yang menyadarinya hanya mengikuti arah pandang Taeyoung yang jelas berada tepat didepan keduanya.
“Lee Min Young,” gumam Jongwoon lirih. Lee Min Young yang tepat berada dihadapan keduanya hanya tersenyum lemah -dan terpaksa-,
“Yak, Jongwoon! Cepat turunkan aku! Aku takut eonni
itu salah paham.” Desis Taeyoung, ia benar-benar merasa bersalah saat
ini. Mendengarnya, Jongwoon hanya tersenyum miris. Masih ditatapnya Lee
Min Young yang berada dihadapannya dengan lekat. “Mianhaeyo, aku membuat senyumanmu sedih seperti itu.” rutuknya dalam hati.
“Kau tidak perlu merasa serisih itu Tae Young ah,”
ucap Min Young mengalihkan perhatian keduanya, “Aku dan Jongwoon… sudah
tidak mempunyai hubungan apapun lagi, kami hanya berteman.” Jelas Min
Young dengan seraya menarik senyum -paksanya-. Tae Young yang
mendengarkannya dengan seksama tiba-tiba saja merasa ada palu godam
berat yang mendampar hatinya. Ia merasa hatinya benar-benar sakit saat
ini.
“Kalau begitu annyeong Taeyoung, aaa… oppa.” Pamit Min Young dengan sedikit terbata, terutama pada kalimat “oppa“.
Setelah melanjutkan kembali
perjalanan pulang, keduanya hanya terdiam. Selain Taeyoung yang
benar-benar merasa sedikit tidak enak, ia pun memang tidak memiliki topic
pembicaraan yang cukup nyaman untuk dibicarakan -termasuk perihal
berakhirnya hubungan Jongwoon dengan eonninya itu-, kecil kemungkinan
bukan jika Jongwoon mau menceritakan perpisahannya itu saat ini juga?
Taeyoung tersadar sesaat dari lamunannya ketika Jongwoon dengan tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Taeyoung ah, kau
tunggu aku disini. Aku ingin meminjam toilet toko ini sebentar, aku
ingin buang air kecil.” Ujar Jongwoon seraya membungkukkan badannya
didekat bangku kecil dipinggir toko, mempersilahkan Taeyoung agar dapat
turun dan duduk dibangku kecil itu dengan mudah. Taeyoung hanya
mengangguk pelan sesaat sebelum ia menahan tawa gelinya ketika melihat
ekspresi Jongwoon yang tengah gencar menahan air seninya keluar.
“Kau masih saja
mentertawakanku pada saat seperti ini,” dengus Jongwoon ketika menyadari
Taeyoung tengah menahan tawanya itu. Kemudian mengerucutkan bibirnya,
seraya berlari terbirit. Taeyoung pun tertawa lepas melihatnya.
—
“Hey cham isanghae
jeongmal strange, ireon jeok eobseonneunde neol bolttaemada na
dugeundugeun tteollineunge… When i see your face honja mak sangsangeul
hae, na pyojeong gwalli andwae michil geot gata tto niga niga bogo
sipeoseo…………….. “
“Kyaaaa! Sistar saranghae~”
jerit Taeyoung ketika lagu Sistar meraung jelas dari toko yang berada
didepannya itu, segera saja ia berlari ‘tak karuan’ menuju bagian dalam
toko.
“Whoaaa, lucunyaaaa.” ucap Taeyoung berbinar, ia sama sekali tidak menyangka toko yang dihadapannya adalah apresiasi bentuk dari kerajaan Teddy bear yang terkadang masuk dalam mimpinya.
“Whoaaa, lucunyaaaa.” ucap Taeyoung berbinar, ia sama sekali tidak menyangka toko yang dihadapannya adalah apresiasi bentuk dari kerajaan Teddy bear yang terkadang masuk dalam mimpinya.
“Kau sangat menyukainya?”
tegur seorang kakek tua yang tiba-tiba saja muncul dari balik kaca
bening tempat boneka beruang besar berwarna pink tersimpan.
“Ne, aku sangat menyukai ini semua paman.” ucap Taeyoung dengan tak henti menatap seluk beluk ruangan penuh makhluk berbulu itu.
“Kau tahu anak muda?
sebenarnya toko ini baru saja akan kami buka besok lusa. Tetapi karena
sepertinya nona cantik ini datang karena takdir yang menariknya, paman
akan memberikan setengah harga jika nona mau membelinya,” ucap kakek tua
yang menyatakan dirinya paman itu. Taeyoung membulatkan matanya
sekejap, diliriknya harga yang telah menempel pada papan kecil tepat di
bawah boneka beruang besar idamannya. “Mwo? setengah harga saja rasanya aku telah membeli tiga beruang besar semacam harga pasar kkk~.” bisiknya dalam hati, ketika mengetahui harga beruang besar itu bahkan melebihi uang saku untuk ramennya.
“Aaa, anniyeo.
Sepertinya aku tidak bisa membeli boneka-boneka ini pada waktu dekat
paman,” ucapnya tak bersemangat. Kakek itu hanya tersenyum kecil
melihatnya.
“Gwaenchana. Ah,
kalau begitu tunggu sebentar disini anak muda.” ujar kakek itu seraya
berjalan cepat menuju tempat ‘kemunculannya’. Taeyoung hanya mengangguk
pelan menanggapinya. —
“Ini untukmu anak muda,” ucap
kakek seraya tersenyum lebar. Taeyoung sempat ingin terkikik geli
melihat senyuman tanpa gigi itu. Namun segera ditepisnya.
“Eoh? Apa ini paman err, maksudku untuk apa kau memberikannya padaku?”
“Hanya untuk hadiah karena
aku menyukaimu anak muda, kau begitu manis. Karena itu, aku ingin
memberikannya padamu. Lihat, lucu bukan? Monyet dan kura-kura bersatu.”
Ujar pria tua itu seraya memainkan kedua boneka gantungan kecil
ditangannya. Taeyoung tersenyum kecil menanggapinya.
“Gomawoyo paman,” sela Taeyoung kemudian dengan nada haru. Membuat pria tua itu memberhentikan aktivitasnya.
“Ne, kalau begitu
ini. Lain kali jika kau punya uang saku yang banyak, datanglah kemari
untuk mampir. Dan jangan lupa bawakan jajangmyeon untuk paman. Kalau
begitu annyeong, paman masuk kedalam ne.” Ujar pria tua itu
panjang lebar seraya memberikan kedua boneka gantungan kecil ke tangan
Taeyoung. Kemudian berlalu begitu saja. Taeyoung tersenyum haru menatap
kedua benda mungil yang ada ditangannya.
“Waeyo Hanyoung? Kau tampak menyeramkan.” Ujar Jongwoon tiba-tiba mengejutkannya. Taeyoung mengernyit sebal.
“Kau yang menyeramkan bodoh!
Kau mengejutkanku!” cibir Taeyoung seraya menghentak-hentakkan kakinya
sebelum sesaat kemudian ia meringis karena merasakan sakit pada tulang
kakinya. Jongwoon hanya menggelengkan kepalanya prihatin.
“Hahaha. Siapa suruh kau
memanggilku bodoh huh? akhirnya kau yang sekarang terlihat lebih dungu,”
ucap Jongwoon dengan gayanya yang angkuh. Iapun menggelengkan kepalanya
-lagi-. Taeyoung hanya terdiam, sesekali ia membuang pandangannya pada
boneka-boneka beruang manis yang menurutnya lebih baik untuk
memandangnya. Jongwoon menghela nafasnya gerah, kemudian membungkukkan
badannya perlahan.
“Naiklah, kita harus segera
pulang sekarang.” Tanpa banyak kata lagi, Taeyoung pun melingkarkan
tangannya pada pundak Jongwoon setelah beberapa saat ia memasukkan dua
gantungan boneka kecil itu masuk kedalam saku celananya.
—
“Sebenarnya apa yang kau
lakukan di toilet tadi? Kau lama sekali,” keluh Taeyoung ketika beberapa
saat ia dan Jongwoon mulai menjauhi toko kerajaan boneka impiannya itu.
“Sudah kubilang aku ingin buang air kecil.”
Hening. Keduanya mulai tenggelam dalam arus pikiran masing-masing. —
“Monyetku!! Kyaaaaa monyetku!!”
“Yaaakk! Yaak! Apa yang kau lakukan Hanyoung ah!?
Berhenti meronta seperti itu! Jika aku tak dapat menahanmu bagaimana
huh?” Sentak Jongwoon bersamaan dengan deru nafasnya yang memburu.
Kesal, karena Taeyoung hampir saja menghilangkan keseimbangannya sesaat
tadi.
“Jeongmal mianhae Jongwoon ah, tadi monyetku hampir saja terjatuh.”
“Monyet?”
“Ne, monyet!” teriak Taeyoung terlebih pada kata ‘monyet’nya.
“Aiiissh, dasar anak ini. Coba perlihatkan padaku apa benda yang kau sebut monyet itu!”
“Taraaaa,” teriak Taeyoung seraya menghadapkan boneka kecil itu tepat diantara kedua mata Jongwoon tanpa jarak yang berarti.
Jongwoon yang merasa risih, menepisnya dengan kedua tangan, dan
Jongwoon yang merasa risih, menepisnya dengan kedua tangan, dan
“Yaaakk! Appeoyeo, namja babo Jongwoon! Kau tega sekali menjatuhkanku seperti ini.” pekiknya seraya meringis kencang. Jongwoon hanya menatapnya santai.
“Apa yang kau katakan huh?” ujar Jongwoon seraya menarik gantungan boneka monyet itu secara paksa dari genggaman Taeyoung.
“Yak, kembalikan!”
“Anni! Ini akibatmu
yang selalu menggoda orang dan berbuat jahil! Lihat, sekarang memakan
korban kan sikap jahilmu itu Han Tae Young?”
“Yak! Korban itu aku sendiri! Kembalikan!”
“Binggo! Jawabanmu
benar, dan aku tak ingin mengembalikannya padamu.” Ujar Jongwoon seraya
memainkan boneka monyet itu dan berjalan menjauh. Sesaat Taeyoung
mendengus prustasi.
“Yaaakk! kembalikan sekarang juga Jongwoon ah!” Jongwoon hanya menganggukan kepalanya beraturan.
“Yaaakk!!” Jongwoon yang
berdiri cukup jauh, membuat Taeyoung kesulitan setengah mati untuk
menjangkau Jongwoon karena cedera dikakinya. “Akhirnya aku mendapatkanmu
Jongwoon ah!” ucap Taeyoung yang kini tengah terengah dan
bertumpu pada tembok jalan tepat disamping Jongwoon yang berdiri dengan
santainya.
“Sekarang kembalikan,” ujar Taeyoung seraya menjulurkan tangannya -meminta-. Jongwoon hanya terdiam dan bergumam sesekali. Taeyoung yang merasa aneh dengan sikap namja itu akhirnya menelitinya dengan seksama.
“Sekarang kembalikan,” ujar Taeyoung seraya menjulurkan tangannya -meminta-. Jongwoon hanya terdiam dan bergumam sesekali. Taeyoung yang merasa aneh dengan sikap namja itu akhirnya menelitinya dengan seksama.
“Michil geot gata tto niga niga bogo sipeoseo I wanna say uuu, uuu, na ottohkae what should i do uu~~,” Taeyoung tersenyum lebar mendengarnya. “Hahaha, namja ini… ternyata dia malah mendengarkan musik! pantas saja dia mengacuhkanku!” Gerutu Taeyoung dalam hati. Walau begitu, ia senang melihat namja
yang berada di sampingnya kini. Perlahan Taeyoung pun mengulurkan
tangannya sejenak, membawa sebelah earphone yang tengah bertengger
dikuping kiri namja imut itu. Jongwoon yang tersentak, mengalihkan
perhatiannya pada yeoja yang kini telah menikmati dunianya
sendiri. Jongwoon pun tersenyum, kilau langit merah berhasil menyiram
keduanya dengan begitu temaram.
To Be Continued
eoh! baguskah? u,u huuuu coment yah... Biar aku tahu letak kesalahan aku u,u

Tidak ada komentar:
Posting Komentar