Saya habis nangis nih setelah membaca kisah seorang suami-istri (dari segi pandang istri) yang benar-benar sedang diuji sama Allah. Saya belajar, bahwa untuk menjadi seorang isteri yang sholehah, sebenarnya mudah tapi dalam beristiqamah nya... Kita perlu terus menerus meminta sama Allah agar diberikan kekuatanNya. Ceritanya benar-benar complicated, saya sampai nangis... Entah, saya memang type orang yang mudah menangis (oh ya Allah, saya berdoa semoga dengan mudahnya saya menangis ini menjadi pertanda bahwa hati saya tidak keras akan Cahaya-Mu) atau karena memang ceritanya sangat.... Menyakitkan.
Asal mula mengapa saya membaca cerita ini adalah, ketika pagi hari setelah dari hamam, saya kemudian tidur-tiduran di kasur (begitu tidak bergunanya aktivitas yg saya lakukan, jangan ditiru) membuka fesbuk untuk sekedar kegiatan iseng, yang sekali lagi ini adalah kegiatan yang tidak terlalu bermanfaat. Jangan ditiru. Tiba saya scroll pada layar touch ini, saya melihat salah satu grup -komedi- fesbuk kita sebut saja fulan, memposting suatu photo yang terdiri dari dua photo disatukan, photo diatas yang pertama bertuliskan, "yang alami dan polos," dan photo kedua "yang keren tapi bekas," dengan photo yang (maaf) bagian atas seorang perempuan dengan paras biasa saja, dan bagian bawah photo perempuan dengan paras yang cukup cantik. Jujur pada saat itu saya sedih, terutama ketika saya buka komenan komenan yang pastinya lebih didominasi kaum adam, komentar itu... Membuat saya meringis, begitu tidak berharga nya kah kaum perempuan yang (maaf) tidak memiliki paras yang cantik? Begitukah?
Saya yang beberapa minggu ini sedang banyak bersedih karena merasa putus asa dengan kaum yang 'katanya' lebih banyak melihat dari fisik ini jadi termenung lagi.. Haruskah kita berparas cantik? Haruskah saya cantik? Saya marah. Jelas. Karena, berdasarkan yang saya tahu, saya (yang merupakan kaum perempuan yang sedang beranjak dewasa) berpikir bahwa dalam rumah tangga itu, paras yang cantik bukan lah yang menjadi andalan. Tapi keshalihahan. Hati, dan perlakuan yang baik. Saya sangat "greget" pada kaum lelaki masa kini. Kenapa semua melihat kaum perempuan dari paras yang dimiliki? Bukankah kebaikan yang nanti kalian butuh dalam berumah tangga? Wallahua'lam
Setelah saya kemudian mengscroll layar ke bagian bawah... Saya kemudian tersenyum lebar lagi, saya melihat kakak kelas waktu di pesantren saya dulu menikah, dengan pria tentunya. Saya senang!
Astagfirullah, Allah yang Maha Pengampun.. Semoga perkataan saya ini dapat menjadi pelajaran, bahwa... Maaf sekali saya berkata seperti ini, kakak kelas saya yang menikah itu, berparas biasa saja.... Mungkin dari sini teman-teman sudah bisa mengerti apa yang ingin saya sampaikan.. Kalau, jodoh itu... Bukan, kita harus cantik. Kalau tidak, kita tidak akan dapat meraih orang itu. Bukan.
Jangan bersedih seperti saya karena (saya sering) merasa jelek. Tapi, terus dekatilah Allah. Ketika kita mendekati Allah, maka kita bisa menghapus pikiran yang jelek, ketika pikiran yang jelek terhapus, maka kita dapat menghapus perilaku jelek yang kita miliki yang sering kita lakukan (InsyaAllah) dan jodoh pilihan yang diberikan Allah, tentu saja melihat kita dari kebaikan yang kita miliki.
Mari kita berjuang bersama teman, menuju keshalihahan yang abadi. Yang baik. Yang menunjukkan kita semua, pada keridhaan Allah. Jalan lurus yang mengarahkan kita pada tempat disisi Allah. InsyaAllah. Amin.
Dari hamba Allah yang sedang berjuang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar